#footer-column-divide { clear:both;background: #3B5998;color:#ffcc66; } .footer-column { padding: 10px; }

UNIVERSITAS INDONESIA

Veritas, Probitas, Justisia

IMS FTUI 2014

Integratif dan Kontributif

Civil Engineering

Proud To Be Civil Engineer

CENS UI 2013

Contribute to our country

OIM FTUI 2014

Ayo sipil pasti bisa rebut juara !!! #SemangatBerprestasi

Senin, 24 Juni 2013

Indonesian Civil And Environmental Festival 2013 - IPB

Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan IPB mengadakan kegiatan yang sesuai dengan bidang Teknik Sipil dan Lingkungan demi terciptanya visi Indonesia yaitu pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini bernama “Indonesian Civil and Environmental Festival (ICEF) 2013” yang nantinya diharapkan akan muncul ide-ide yang mendukung pembangunan Indonesia ke arah yang lebih baik.



Pada acara ini, akan diadakan beberapa event dan lomba yang meliputi:

- Expo
berupa pameran yang menampilkan semua hasil karya dari peserta lomba baik esaai, inovasi bahan bangunan, eco-villade dessign competition, lomba karya tulis ilmiah, fotografer dan poster. Terdapat stand perusahaan yang bergerak di bidang teknik sipil dan/atau teknik lingkungan dan stand dari sponsor acara ICEF 2013

- Seminar
merupakan kegiatan puncak dari seluruh rangkaian acara ICEF 2013. Kegiatan seminar akan diselenggarakan pada tanggal 9 November 2013 meliputi 2 sesi seminar dan 1 sesi talk show. Seminar ini mengangkat tema “Pembangunan Hijau dan Berkelanjutan untuk Kemajuan Infrastruktur di Indonesia” dengan tiga topik utama, yaitu: konstruksi hijau, manajemen daerah resapan, dan eco-village

- Lomba Essay
Tema essai yang diangkat dalam kompetisi ini adalah “Pengelolaan Daerah Resapan dalam Mengatasi Permasalahan Banjir di Indonesia”. Kompetisi ini bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan banjir di Indonesia melalui solusi-solusi yang inovatif, aplikatif, dan preventif

- Lomba Inovasi Bahan Bangunan
Tema dari kompetisi ini adalah “Agroecomaterial: Potensi Limbah Pertanian dalam Campuran Beton sebagai Bahan Konstruksi Kolom”. Kompetisi ini bertujuan untuk menemukan alternatif bahan bangunan berbahan limbah pertanian yang ramah lingkungan. Selain itu, lomba ini diharapkan mampu menghasilkan material campuran beton sebagai bahan substitusi pasir, kerikil, maupun semen, sehingga kebutuhan akan material tersebut dapat tersubstitusi dan tergantikan oleh limbah pertanian

- Lomba Fotografi dan Desain Poster
Lomba Fotografi dan Poster akan diikuti oleh siswa SMA/Sederajat dan mahasiswa/mahasiswi S1 dan D3 di seluruh Indonesia. Tema poster yaitu “Avoid the Water Crisis: What’s Your Action?”. Poster yang dibuat harus dapat memberikan suatu informasi kepada masyarakat tentang penanganan masalah krisis air yang sesuai dengan kreasi dari masing-masing peserta. Tema fotografi yaitu “Exploring Your Mind Through The Village”

- Desain Eco-Village
Eco-village merupakan konsep pembangunan suatu komunitas (dalam hal ini kawasan perdesaan) yang dilatarbelakangi dengan 4 dimensi utama, yaitu: community development, budaya/spiritual, ekologi dan ekonomi. Lomba eco-village ini mengangkat tema “Desain Pembangunan dan Pengembangan Pasar sebagai Salah Satu Dimensi Eco-village”. Pada umumnya pasar di Indonesia memiliki sistem pengelolaan sampah, pemanfaatan energi, desain, kekuatan struktur, dan perencanaan lanskap yang tidak teratur. Akibatnya, pasar menjadi kumuh, tidak terawat dan tidak menarik. Oleh karena itu, Lomba ini diharapkan mampu menumbuhkan minat mahasiswa untuk merancang, mendesain, dan membangun wilayah pasar yang merupakan bagian penting dari eco-village.

- Karya Tulis Ilmiah
Tema dari kompetisi ini adalah “Eco Trash Bin”. Kompetisi ini bertujuan untuk menemukan alternatif tempat sampah yang ramah lingkungan dan menarik konsumen (dalam hal ini masyarakat Indonesia). Eco Trash Bin ini diharapkan mampu mengurangi berbagai permasalahan sampah di Indonesia. Peserta lomba ini terdiri dari seluruh pelajar SMA/SMK sederajat di Indonesia

Pendaftaran semua cabang lomba akan dibuka mulai tanggal 15 Juli 2013


Bagi teman-teman DTS UI yang berminat mengikuti event bergengsi ini, dapat mengisi Form Pendaftaran Lomba DTS

info lebih lanjut dapat dilihat di www.icef-ipb.com

KJI KBGI 2013 TELAH DIMULAI !!

Pagi Sipil

Salah satu event terbesar bagi mahasiswa sipil se Indonesia telah mulai. Kompetisi Jembatan Indonesia kali ini merupakan yang pelaksanaan yang ke-9 sedangkan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia merupakan tahun ke-5 nya dalam pelaksanaan selama ini.

Pada event KJI KBGI kali ini, Universitas Brawijaya akan berlaku sebagai tuan rumah.  Acara puncak perlombaan akan dilaksanakan pada 28 November 2013 - 1 Desember 2013

Tema yang akan diangkat tahun ini adalah:

Tema Jembatan  : Jembatan Kokoh, Praktis, Inovatif dan Berwawasan Lingkungan
Tema KBGI       : Rumah Kayu Bertingkat Yang Handal dan Berwawasan Nusantara



Batas waktu penerimaan proposal (hard Copy dan Soft Copy) di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi selambat-lambatnya tanggal 19 Juli 2013 pukul 16.00 WIB. Proposal disampaikan kepada :

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Gedung D Lt. IV Jl. Jenderal Sudirman Pintu Satu Senayan, Jakarta.

Buku panduan KJI IX 2013 dapat didownload di sini 
Buku panduan KBGI V 2013 dapat didownload di sini


Bagi teman-teman DTS UI yang berminat mengikuti event bergengsi ini, dapat mengisi Form Pendaftaran Lomba DTS . Kami dari IMS akan berusaha untuk memfasilitasi dan mewadahi peserta yang berminat ikut pada ajang ini.

Yuk harumkan nama UI dan mari kita kuningkan kembali malang !!

info lebih lanjut dapat dilihat di:
http://kji-kbgi2013.ub.ac.id/
http://www.dikti.go.id/?p=9747&lang=id

Selasa, 04 Juni 2013

Tema Logo Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013

United Nations Environment Programme (UNEP), organisasi bentukan PBB yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan peringatan World Environment Day setiap tahunnya merilis tema dan logo Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013. Dan peringatannya adalah tanggal 5 Juni 2013.
Pada peringatannya di tahun 2013, tema sentral yang diangkat adalah mengenai makanan. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), setiap tahun sekitar 1,3 miliar ton makanan yang telah terbuang dan menjadi sampah.

Tema dan Logo Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013

Gaya hidup manusia telah menyebabkan sedikitnya 1,3 miliar ton makanan terbuang percuma. Padahal 1 dari 7 orang di dunia harus rela tidur dalam keadaan lapar dan lebih dari 20.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap hari karena kelaparan.
Logo Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013
Logo dan Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013
Mengingat tersebut, UNEP kemudian menetapkan tema Hari Lingkungan Hidup 2013 berupa: “Think.Eat.Save”, dengan Mongolia sebagai Host Country Perayaan. Dengan tema Think.Eat.Save tersebut, UNEP mengajak semua warga dunia untuk lebih sadar akan dampak lingkungan yang diakibatkan dari pilihan jenis makanan yang dibuat ataupun dikonsumsi.
Dampak dari limbah makanan bukan hanya kerugian secara finansial saja. Namun limbah makanan juga berdampak buruk bagi lingkungan. Semakin banyak sisa makanan yang terbuang berarti juga semakin besar pemborosan terhadap penggunaan bahan kimia (pupuk dan pestisida), sumber daya alam (semisal air), serta makin banyak bahan bakar yang dihabiskan untuk transportasi. Semakin banyak makanan membusuk pun akan menghasilkan lebih banyak metana, salah satu gas rumah kaca yang paling berbahaya yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Metana mempunyai kontribusi menghasilkan gas rumah kaca 23 kali lebih besar dibanding CO2. Jumlah besar makanan pergi ke tempat pembuangan sampah membuat kontribusi yang signifikan terhadap pemanasan global.
UNEP juga telah menetapkan logo Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013. Sebagaimana logo-logo peringatan tahun sebelumnya, logo kali ini pun cukup interaktif dengan warna-warni menarik di atas background putih. Jika menginginkan logo dengan kualitas gambar yang lebih tinggi silakan kunjungi situs resmi UNEP (www.unep.org/wed/infomaterials/logos/), tersedia logo-logo dalam format JPG, EPS, AI, dan PDF.
Sayang, berbeda dengan penyelenggaraan peringatan Hari Air Dunia yang menyediakan logo dalam pilihan berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, UNEP hanya menyediakan logo World Environment Day dalam versi Inggris, Arab, China, Prancis, Portugal, dan Spanyol. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, sebagai pemegang otoritas penyelenggaraan Hari Lingkungan Hidup di Indonesia tampaknya pun belum merilis tema maupun logo dalam bahasa Indonesia.

Think.Eat.Save

Mengurangi limbah makanan, berarti juga menghemat uang, meminimalkan dampak lingkungan dari produksi pangan dan proses produksi pangan pun menjadi lebih efisien. Karena jika makanan terbuang, berarti semua sumber daya dan input yang digunakan dalam produksi makanan juga ikut hilang.
Beberapa fakta penting mengenai pangan dan produksi pangan:
  • 25% lahan tanah di bumi dipergunakan dalam produksi pangan
  • Produksi pangan mengonsumsi hingga 70% dari total air tawar di bumi
  • Alih fungsi hutan menjadi areal pertanian merupakan penyumbang 80% kerusakan hutan
  • Produksi pangan menjadi penyumbang 30% dari total  emisi gas rumah kaca
Maka dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup 2013 mari kita cermati dampak lingkungan yang diakibatkan dari pilihan jenis makanan kita. So, Think.Eat.Save – Reduce Your Foodprint; think before you eat and help save our environment!

 Sumber : http://www.unep.org/wed/theme/
http://alamendah.org/2013/03/26/tema-logo-hari-lingkungan-hidup-sedunia-2013/

Pengembangan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta


Percepatan proses pengembangan Bandara Soekarno-Hatta mutlak untuk dilakukan. Hal itu mengingat jumlah pergerakan penumpang saat ini telah mencapai dua kali lipat dari kapasitas yang tersedia, yaitu 44,3 juta penumpang per tahun yang dilayani 14 maskapai pada jalur penerbangan domestik dan 41 maskapai di rute internasional.
     Sedangkan kapasitas terminal yang tersedia hanya untuk melayani 22 juta penumpang per tahun. Target dari revitalisasi ini adalah meningkatkan kapasitas Bandara Soekarno-Hatta agar dapat melayani hingga 62 juta penumpang per tahun pada 2014
Grand Design: Peta rencana pengembangan Bandara Soekarno-Hatta
     Pada rapat koordinasi yang dihadiri seluruh pihak yang berkompeten mengenai percepatan pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, ditetapkan ada lima agenda besar yang ditekankan  dalam merevitalisasi Bandara Soekarno-Hatta yaitu :
1. Meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat tanpa membangun landasan baru, 
    namun dengan melakukan optimalisasi landasan pacu 1 dan 2 yang ada
2. Pengembangan Terminal 3 dan revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2 untuk menambah 
    kapasitas pergerakan penumpang
3. Pembangunan terminal kargo baru (Cargo Village)
4. Pengembangan fasilitas penunjang (aksesibilitas dan fasilitas lain)
5. Pembangunan integrated building(bangunan penghubung) antara T1 dan T2 yang  berkonsep 
    ”one stop service”.


New Concept: Integrasi Terminal 1 dan Terminal 2

     Untuk mengoptimalisasi landasan pacu,  dilakukan dengan cara merekonfigurasi runway 1 dan 2  dengan menambah jumlah taxiway serta meningkatkan kapasitas area parkir pesawat (apron) saat ini, dari 125 pesawat menjadi 174 pesawat. ”Pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta saat ini 52 pergerakan per jam. Dengan mengoptimalisasi runway yang ada, kapasitasnya bisa di tingkatkan menjadi 62 pergerakan per jam. Optimalisasi landasan pacu tersebut dilakukan agar target kapasitas 62 juta penumpang per tahun dapat tercapai pada 2014 tanpa membangun landasan pacu yang baru.

     Alternatif lain, membangun landasan pacu ketiga berikut terminal keempat yang dialokasikan di sisi utara bandara memang menjadi solusi lain yang ditawarkan guna meningkatkan kapasitas Soekarno-Hatta. Karena dengan adanya runway ketiga, volume pergerakan pesawat bisa didongkrak hingga 234 pergerakan per jam.

     Akan tetapi, keputusan untuk membangun runway ketiga tersebut sangat bergantung pada proses pembebasan lahan. Dibutuhkan seluas 830 hektare lahan baru untuk membangun runway ketiga. Jika proses pembebasannya dapat diselesaikan pada 2013, runway baru bisa dibangun. Tetapi kalau 2013 belum beres, maka pilihannya adalah harus membangun bandara baru. Karena Soekarno-Hatta sudah tidak bisa lagi dikembangkan, sementara pertumbuhan penumpang akan terus meningkat.

     Selain optimalisasi runway 1 dan 2, agenda selanjutnya adalah melakukan pengembangan Terminal 3 serta revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2. Terminal 3 yang saat ini berdaya tampung 4 juta pergerakan penumpang per tahun akan dikembangkan hingga 25 juta penumpang per tahun, dengan membangun terminal tambahan yang akan menjadi bagunan utama (main building) dan terminal Pier 2. Sementara untuk program revitalisasi Terminal 1 dan 2, akan dilakukan penambahan luas masing-masing bangunan ke arah depan, untuk kemudian diintegrasikan dengan sebuah bangunan baru yang berfungsi sebagai penghubung (integrated building). Terminal 1 yang saat ini melayani 9 juta penumpang per tahun akan direvitalisasi agar bisa melayani menjadi 18 juta penumpang per tahun. Sedangkan Terminal 2 akan dikembangkan dari 9 juta menjadi 19 juta.
Konsep Pengembangan Terminal 3

     Pengembangan Terminal 3 direncanakan akan selesai pada 2013, kemudian program revitalisasi T1 yang dimulai pertengahan 2013 dan selesai 2014 dan disusul revitalisasi Terminal 2 mulai pertengahan 2012-2013, pembangunan terminal kargo baru akan tender dan selesai 2013. Sementara jadwal pembangunan fasilitas penunjang akan dilakukan secara paralel sejak tahun  2011 hingga 2014. Sedangkan pembangunan gedung terminal terintegrasi (integrated building) antara Terminal 1 dan Terminal 2, perencanaan dan pembangunan dimulai sejak tahun 2011 dan selesai pertengahan 2013.

     Pengerjaan pengembangan Terminal 3 akan dijadwalkan lebih dulu, menyusul kemudian revitalisasi Terminal 1 dan 2. Hal ini agar operasional penerbangan yang ada sekarang tidak terganggu. Sebelum T1 dan T2 dikembangkan, seluruh kegiatan operasionalnya akan dialihkan ke T3.

     Perkiraan awal kebutuhan anggaran untuk semua proyek terebut berkisar Rp11,75 triliun, di mana seluruh pendanaan  berasal dari kas Angkasa Pura II bekerja sama dengan investor, dan pinjaman perbankan nasional jika diperlukan.

Modern Airport With Traditional Flavour

     Grand design Bandara Internasional Soekarno Hatta merupakan konsep besar yang berfungsi sebagai pedoman (guidelines) di dalam pembuatan perancangan dan pengembangan yang mengacu kepada Rencana Induk Bandar Udara Soekarno Hatta. Hal tersebut sebagaimana ditetapkan dalam keputusan Menteri Perhubungan No: KM 48 Tahun 2008. Grand Design dibuat dengan pendekatan komprehensif untuk memberikan solusi, terutama terhadap masalah-masalah pokok seperti: Kapasitas, Aksesibilitas, Konektivitas, Intermoda dan aspek lingkungan.

     Grand Design juga menjadi solusi untuk mengantisipasi perkembangan bandar udara selama kurun 20 tahun ke depan. Di mana telah diproyeksikan bahwa pada tahun 2020 hingga 2030, lalu lintas penumpang dan pesawat di kawasan Asia Pasifik diprediksi akan mengalahkan kawasan Eropa dan Amerika dengan jumlah pergerakkan mencapai lebih 2,3 miliar penumpang per tahun. Sejalan dengan itu, akan terjadi pula transisi pola rute penerbangan dari jarak jauh (Long-Haul) menuju jarak menengah (Medium-Haul).

     Mendasari bahwa traffic penumpang angkutan udara di kawasan ASEAN terus meningkat pada kurun 10 tahun ke depan—khususnya Indonesia yang merupakan pasar cukup besar bagi angkutan Udara Internasional (arrival, transit dan destination) di kawasan Asia Pasifik dengan prediksi pertumbuhan antara 4,1% - 5.7 % per tahun—maka diperlukan langkah-langkah strategis dengan membuat grand design sebagai pedoman pembangunan sarana dan prasarana bandar udara secara komprehensif. Hal tersebut mengingat total jumlah pergerakan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta saat ini telah mencapai angka 44,3 juta per tahun (2010). Sementara kapasitas seluruh terminal yang ada hanya untuk 22 juta penumpang per tahun. Grand Design Soekarno Hatta dengan mengoptimalisasikan dua landasan pacu dirancang mampu menampung hingga 62 juta penumpang per tahun (ultimate).

     Dalam mengembangkan Bandara Soekarno-Hatta, Angkasa Pura II tidak akan mengubah konsep awal yang mengedepankan  konsep arsitektur landscape airside dan landscape terminal. Yakni konsep bandara ramah lingkungan yang sarat dengan penghijauan dan kaya akan unsur-unsur etnik tradisional Indonesia. ”Citarasa tradisional Indonesia akan tetap kental terasa. Tetapi sistem dan konsep pelayanan  akan kita bubuhkan dengan sentuhan moderen, sesuai dengan tuntutan perkembangan sebagai bandara yang ’world class’,” Soekarno-Hatta ke depan diharapkan menjadi bandara berkarakteristik modern  yang sarat dengan sentuhan arsitektural tradisional Indonesia atau ”Modern Airport With Traditional Flavour”. Ide ini merupakan upaya luar biasa untuk tetap mempertahankan karakter monumental bagi arsitektur Indonesia/Nusantara.
Interchange Terminal
Bangunan Terminal 3 misalnya, akan dikembangkan dengan konfigurasi masa bangunan berbentuk U atau U-Shape yang dapat mengakomodasi seluruh kegiatan operasional penumpang. Di antaranya pelayanan penumpang, penanganan bagasi, pengunjung, perpindahan inter-moda, penumpang transit, penumpang transfer dan fasilitas komersial. Perpaduan dan harmonisasi berbagai kebutuhan operasional penumpang dengan fungsi dan kegiatannya tersebut akan terintegrasi di dalam bangunan untuk pelayanan publik.Salah satunya central check-in yang merupakan jawaban terhadap kebutuhan pelayanan penumpang dalam memenuhi persyaratan kenyamanan, keamanan, ketepatan waktu serta melayani penumpang yang tersebar dalam kapasitas besar secara simultan.

     Terkait kondisi iklim di Indonesia, sebagian atap bangunan Terminal 3 akan mengadopsi bangunan monumental arsitektur di Indonesia yang bercirikan masa bangunan arsitektur tropis. Atap berarsitektur tropis ini akan menjadi solusi bagi kondisi dan karakteristik cuaca di Indonesia seperti hujan dan radiasi matahari yang intensitasnya tinggi. Keputusan tersebut juga merupakan hasil analisis untuk menghindari salah pengertian dalam menetapkan ciri arsitektur tradisional yang beragam di seluruh wilayah Indonesia/Nusantara.

Integrated Building

Integrated Building T1-T2
   
     Integrated Building atau bangunan penghubung yang akan dibangun di antara Terminal 1 dan Terminal 2 adalah bangunan baru yang mengusung sistem pelayanan ”one stop service”. Konsep bangunan ini berbentuk circular (melingkar) dengan green wall di antara jalan akses yang memisahkan T1 dan T2. Selain itu dilengkapi pula lapisan kaca pada facade bangunan yang menyatu secara massa dengan bangunan eksisting T1 dan T2. Beragan fasilitas yang akan dihadirkan akan membuat bangunan ini sekadar sebagai bangunan penghubung antar-terminal, tetapi akan memberikan nilai lebih bagi Bandara Soekarno-Hatta yang diorientasikan menjadi kawasan ”Aerotropolis”. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain area parkir bertingkat, ruang konvensi (convensional hall), pusat belanja, sarana rekreasi, fasilitas hotel, perkantoran penunjang operasional bandara.

     Bangunan yang sangat mengusung konsep ramah lingkungan ini juga sedianya akan difungsikan pula sebagai interchange intermoda atau terminal intermoda dari sejumlah moda angkutan massal. Antara lain kereta api bandara, bus, serta people mover system atau kendaraan berbasis rel tanpa awak yang akan menjadi moda penghubung antara T1, T2 dan T3.


     Pada awalnya arsitektural bandara internasional Soekarno-Hatta memperkenalkan konsep landscape airside dan landscape dari bangunan terminal T1 dan T2. Konfigurasi half circular dengan konsep fingers piers yang mulai operasional untuk T1 sejak 1985 dan T2 sejak 1992 merupakan hasil adaptasi dari arsitektur tradisional pada iklim tropis. Kemudian diintegrasikan dengan bentuk penyelesaian arsitektur/desain bandara modern atau masa kini. Dari segi arsitektur, pengembangan yang akan dilakukan sekarang masih sesuai dengan  konsep awal yaitu : Tetap ramah lingkungan dan mengusung nilai-nilai budaya nasional Indonesia.

Sumber : http://himaartlie.blogspot.com/2013/04/pengembangan-bandara-soekarno-hatta-jakarta.html

Sabtu, 11 Mei 2013

Rumah Tahan gempa



RUMAH TAHAN GEMPA

PENDAHULUAN
Wilayah Indonesia mencakup daerah-daerah yang mempunyai tingkat resiko gempa yang tinggi diantara beberapa daerah gempa diseIuruh dunia.
Data-data terakhir yang berhasil direkam menunjukkan bahwa rata-rata setiap tehun terjadi sepuluh kegiatan gempa bumi yang mengakibatkan kerusakan yang cukup besar di Indonesia. Sebagian terjadi pada daerah lepas pantai dan sebagian lagi pada daerah pemukiman (untuk melihat kejadian gempa bumi pada hari ini klik disini) Pada daerah pemukiman yang cukup padat, perlu adanya suatu perlindungan untuk mengurangi angka kematian penduduk dan kerusakan berat akibat goncangan gempa.
Dengan menggunakan prinsip teknik yang benar, detail konstruksi yang baik dan praktis maka kerugian harta benda dan jiwa menusia dapat dikurangi.
Dalam webblog ini, diuraikan faktor-faktor dasar dari goncangan gempa yang kemudian di uraikan prinsip-prinsip utamanya yang akan dipakai dalam membangun rumah tahan gempa.
BEBERAPA KARAKTERISTIK GONCANGAN GEMPA
Pada lokasi bangunan, gempa bumi akan menyebabkan tanah dibawah bangunan dan di sekitarnya tergoncang dan bergerak secara tak beraturan (random). Percepatan tanah terjadi dalam tiga dimensi membentuk kombinasi frekwensi getaran dari 0,5 Hertz sampal 50 Hertz. Jika bangunan kaku (fixed) terhadap tanah (dan tidak dapat tergeser) gaya inersia yang menahan percepatan tanah akan bekerja pada tiap-tiap elemen struktur dari bangunan selama gempa terjadi. Besarnya gaya-gaya inersia ini tergantung dari berat bangunannya, semakin ringan berarti semakin kecil gaya inersia yang bekerja dalam elemen struktur tersebut.
Tanggung jawab sebagai orang yang berkecimpung daIam industri konstruksi adalah mendirikan bangunan sedemikian rupa sehingga bangunan tetap mampu berdiri menahan gaya-gaya inersia tersebut. Pertanyaan yang timbul kemudian, “Berapa kekuatan bangunan yang kita perlukan ?”.
TINGKAT PEMBEBANAN GEMPA
Pada tahun 1981, studi untuk menentukan besarnya “beban gempa rencana” sudah dilakukan. Studi ini adalah proyek kerja sama antara Pemerintah Indonesia-New Zealand yang menghasilkan. Peraturan Muatan Gempa lndonesia.
Pada konsep peraturan tersebut ada 2 (dua) langkah pendekatan untuk menghitung pembebanan gempa yang dapat digunakan.
Kriteria pertama, bahwa perencanaan pembebanan gempa sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kerusakan struktur atau kerusakan arsitektural setiap kali terjadi gempa. Kriteria kedua meskipun terjadi gempa yang hebat bangunan tidak boleh runtuh tetapi hanya boleh kerusakan-kerusakan pada bagian struktur yang tidak utama atau kerusakan arsitektur saja. Telah diketahui bahwa adalah tidak ekonomis merencanakan bangunan tahan gempa cara elastis. Jadi untuk gempa yang besar dimana kemungkinan terjadinya kira-kira 15% dari umur bangunan tersebut, dipakai harga perencanaan yang rendah dan perencanaan khusus serta ukuran detail-detail diambil sedemikian sehingga menjamin beberapa bagian tertentu dari struktur akan Ieleh (berubah bentuk dalam keadaan plastis) untuk menyerap sebagian enersi gempa (yang berlaku untuk keadaan kenyal). Besarnya harga beban rencana yang terjadi berhubungan dengan beberapa faktor yang selengkapnya terdapat pada reference, yang disimpulkan sebagai berikut:
1. Faktor Lapangan (site)
Gambar dibawah ini, menunjukkan enam jalur gempa di Indonesia yang menentukan parameter dasar pembebanan
konstr8Parameter ini dimodifikasikan untuk perhitungan pada kondisi tanah Iunak dimana goncangan tanah akibat gempa akan diperbesar (mengalami pembesaran).
(Untuk Jakarta, pada zone 4 dan diatas tanah lunak koefisien beban rencana lateral adalah 0,05 untuk struktur yang kaku seperti perumahan bertingkat rendah).
2. Faktor Bangunan
Beban yang terjadi pada suatu bangunan juga tergantung pada keadaan (features) dari bangunan rersebut, yakni fleksibilitasnya, beratnya dan bahan bangunan untuk konstruksinya. Biasanya suatu bangunan yang fIeksibel akan menerima beban gempa yang Iebih kecil dibandingkan bangunan yang lebih kaku. Bangunan yang lebih ringan akan menerimna beban gempa yang Iebih keciI dari pada bangun yang berat dan bangunan yang kenyal akan menyerap beban gempa yang lebih kecil dari pada bangunan yang getas yang mana dalam keadaan pengaruh gempa akan tetap elastis atau runtuh secara mendadak. Bangunan dari kayu digolongkan sebagai bangunan yang kenyal. Untuk struktur kayu harus direncanakan dengan menggunakan Peraturan Muatan Indonesia yang baru. Beban rencana adalah 33% – 50% dari gaya yang menyebabkan struktur belum mulai Ieleh atau masih dalam keadaan elastis. Reduksi ini tidaklah sama besarnya untuk bahan bangunan yang lain, misalnya baja yang mempunyai kekenyalan yang lebih besar dari kayu. Meskipun demikian kekenyalan dapat diciptakan dalam struktur kayu dengan menggunakan alat penyambung yang kenyal pada tiap-tiap hubungan elemen stuktur kayu tersebut. Pada umumnya, sambungan dengan paku memberikan kekenyalan yang cukup.
3. Tingkat Pembebanan Gempa untuk Bangunan Kayu
Dengan memperhatikan faktor lapangan dan faktor bangunan, struktur kayu harus tetap mampu berdiri untuk menahan beban-beban sebagai berikut : (Jakarta, tanah lunak)
Rangka kayu kenyal : 0,05 *) x 1,7 = 0,085
Dinding geser kayu : 0,05 *) x 2,5 = 0,125
Konstruksi rangka kayu yang diperkuat dengan batang pengaku diagonal: 0,05 *) x 3 = 0,15
Keterangan :
*) Faktor ini mempunyai harga maksimum 0,13 pada zone I dan 0 pada zone 6.
Hal ini berarti, misalnya suatu dinding geser yang terbuat dari plywood atau particle board, harus dapat menerima gaya horisontal sebesar 0,125 x berat total dari bagian struktur yang membebani dinding tersebut. Meskipun suatu bangunan direncenakan dengan harga pembebanan yang benar, mungkin bangunan. tersebut mengalami kerusakan akibat gempa jika sebagian dari prinsip-prinsip utamanya tidak dipenuhi.
PRlNSlP-PRlNSIP UTAMA KONSTRUKSI TAHAN GEMPA
1. Denah yang sederhana dan simetris
Penyelidikan kerusakan akibat gempa menunjukkan pentingnya denah bangunan yang sederhana dan elemen-elemen struktur penahan gaya horisontal yang simetris. Struktur seperti ini dapat menahan gaya gempa Iebih baik karena kurangnya efek torsi dan kekekuatannya yang lebih merata.
2. Bahan bangunan harus seringan mungkin
Seringkali, oleh karena ketersedianya bahan bangunan tertentu. Arsitek dan Sarjana SipiI harus menggunakan bahan bangunan yang berat, tapi jika mungkin sebaiknya dipakai bahan bangunan yang ringan. Hal ini dikarenakan besarnya beban inersia gempa adalah sebanding dengan berat bahan bangunan. Sebagai contoh penutup atap genteng diatas kuda-kuda kayu menghasilkan beban gempa horisontal sebesar 3 x beban gempa yang dihasilkan oleh penutup atap seng diatas kuda-kuda kayu. Sama halnya dengan pasangan dinding bata menghasiIkan beban gempa sebesar 15 x beban gempa yang dihasilkan oleh dinding kayu.
3. Perlunya sistim konstruksi penahan beban yang memadai
Supaya suatu bangunan dapat menahan gempa, gaya inersia gempa harus dapat disalurkan dari tiap-tiap elemen struktur kepada struktur utama gaya honisontal yang kemudian memindahkan gaya-gaya ini ke pondasi dan ke tanah.
Adalah sangat penting bahwa struktur utama penahan gaya horizontal itu bersifat kenyal. Karena, jika kekuatan elastis dilampaui, keruntuhan getas yang tiba-tiba tidak akan terjadi, tetapi pada beberapa tempat tertentu terjadi Ieleh terlebih dulu.
Suatu contoh misalnya deformasi paku pada batang kayu terjadi sebelum keruntuhan akibat momen lentur pada batangnya.
Cara dimana gaya-gaya tersebut dialirkan biasanya disebut jalur Iintasan gaya.
Tiap-tiap bangunan harus mempunyai jalur lintasan gaya yang cukup untuk dapat menahan gaya gempa horisosontal.
Untuk memberikan gambaran yang jelas, disini diberikan suatu contoh rumah sederhana dengan tiga hal utama yang akan dibahas yaitu struktur atap, struktur dinding dan pondasi.
konstr9
konstr10
konstr11
konstr12konstr13
3.1. Struktur atap
Jika tidak terdapat batang pengaku (bracing) pada struktur atap yang menahan beban gempa dalam arah X maka keruntuhan akan terjadi seperti, diperlihatkan pada gambar berikut:
konstr14
Sistim batang pengaku yang diperlukan diperlihatkan pada gambar di bawah ini :konstr15Jika lebar bangunan lebih besar dari lebar bangunan di mungkin diperlukan 2 atau 3 batang pengaku pada tiap-tiap ujungnya.
Dengan catatan bahwa pengaku ini harus merupakan sistim menerus sehingga semua gaya dapat dialirkan melalui batang-batang pengaku tersebut.
Gaya-gaya tersebut kemudian dialirkan ke ring balok pada ketinggian langit-langit.
Gaya-gaya dari batang pengaku dan beban tegak lurus bidang pada dinding menghasilkan momen lentur pada ring balok seperti terlihat pada gambar dibawah ini :
konstr16konstr17
konstr18
konstr19
konstr20
Jika panjang dinding pada arah lebar (arah pendek) lebih besar dari 4 meter maka diperlukan batang pengaku horisontal pada sudut untuk memindahkan beban dari batang pengaku pada bidang tegak dinding daIam arah X dimana elemnen-elemen struktur yang menahan beban gempa utama.
Sekali lagi ring balok juga harus menerus sepanjang dinding dalam arah X dan arah Y
Sebagai pengganti penggunaan batang pengaku diagonal pada sudut, ada 2 (dua) alternatif yang dapat dipilih oIeh perencana;
Ukuran ring balok dapat diperbesar dalam arah horisontal, misalnya 15 cm menjadi 30cm atau sesuai dengan yang dibutuhkan dalam perhitungan. Ring bolok ini dipasang diatas dinding dalam arah X.
Dipakai langit-langit sebagai diafragma, misalnya plywood.
Untuk beban gempa arah Y, sistim struktur dibuat untuk mencegah ragam keruntuhan. Untuk mengalirkan gaya dari atap kepada dinding dalam arah Y, salah satu alternatif diatas dapat dipilih yaitu penggunaan batang pengaku horisontal ring balok atau memakai langit-langit sebagai diafragma.
3.2. Struktur dinding
Gaya-gaya aksiaI dalam ring balok harus ditahan oleh dinding.
Pada dinding bata gaya-gaya tersebut ditahan oleh gaya tekan diagonal yang diuraikan menjadi gaya tekan dan gaya tarik. Gaya aksiaI yang bekerja pada ring balok juga dapat menimbulkan gerakan berputar pada dinding. Putaran ini ditahan oleh berat sendiri dinding, berat atap yang bekerja diatasnya dan ikatan sloof ke pondasi.
Jika momen guling lebih besar dari momen penahannya maka panjang dinding harus diperbesar.
Kemungkinan lain untuk memperkaku dinding adalah sistim diafragma dengan menggunakan plywood, particle board atau sejenisnya, atau pengaku diagonal kayu untuk dinding bilik.
Penggunaan dinding diafragma lebih dianjurkan karena sering terjadi kesulitan untuk memperoleh sambungan ujung yang lebih pada sistim pengaku diagonal.
Beban gempa yang bekerja pada arah Y ditahan dengan cara yang sama dengan arah X
Sebagal sistem struktur utama yang mana dinding harus mampu menahan beban gempa yang searah dengan bidang dinding, dinding juga harus mampu menahan gempa dalam arah yang tegak lurus bidang dinding.
Dengan alasan ini maka dinding bata (tanpa tulangan) harus diperkuat dengan kolom praktis dengan jarak yang cukup dekat. Sebagai pengganti kolom praktis ini dapat dipakai tiang kayu.
konstr213.3. Struktur pondasi
Struktur pondasi berperanan penting untuk memindahkan beban gempa dari dinding ke tanah.
Pertama, pondasi harus dapat menahan gaya tarik vertikal dan gaya tekan dari dinding. Ini berarti sloof menerima gaya geser dan momen lentur sebagai jalur Iintasan gaya terakhir sebelum gaya-gaya tersebut mencapai tanah.
Akhirnya sloof memindahkan gaya-gaya datar tersebut ke pada tanah yang ditahan oleh daya dukung tanah dan tekanan tanah lateral.
Rumah yang terbuat dari kayu dengan lantai kayu dan pondasi kayu seperti gambar-gambar di bawah ini memerlukan batang pengaku untuk mencegah keruntuhan.
konstr22
konstr23
konstr24
konstr25
konstr26
konstr27
konstr28
KESIMPULAN
Dari uraian diatas, goncangan gempa dan cara menghitung harga pembebanan gempa untuk suatu bangunan, dapat disimpulkan
bahwa :
Kekenyalan struktur sangat ditekankan sekali untuk mencegah keruntuhan bangunan.
Gaya gempa hanya dapat ditahan oleh sistem struktur yang menerus (jalur lintasan gaya yang menerus) dari puncak bangunan sampai ke tanah.

REFERENSI :
  1. A.W. Charleson, M.E., MNZIE. “KONSTRUKSI RUMAH TAHAN GEMPA DI INDONESIA”.
  2. Teddy Boen, Ir., “MANUAL BANGUNAN TAHAN GEMPA”.
  3. Studio Penataan Bangunan dan Lingkungan Dirjen Cipta Karya 2006 “PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH TAHAN GEMPA”


Minggu, 21 April 2013

Earth Day: bukan sekedar peringatan, mari bertindak !

HARI BUMI 2013

Sejarah

            Hari bumi pertama diperningati 30-an tahun lalu atau tepatnya tahun 1970 dan dilakukan pertamakali di negara Amerika. Hari bumi digagas pertamakali oleh Gaylord Nelson dia dalah seorang senator. Ide Hari Bumi ini dia cetuskan pertamakali pada saat pidatonya di Seatlle tahun 1969 tentang desakan untuk memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model teach in mengenai masalah anti perang. Gagasan Nelson mendapat dukungan yang mencengangkan dari masyarakat sipil. Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan HARI BUMI yang monumental. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970. Nelson menyebutkan fenomena ini sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan’ dimana : ” Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu “.

        Bumi yang pertam ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan HARI BUMI menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle. Bila Hari Bumi ‘70 pertama paling tidak melibatkan 20 juta manusia di AS, Hari Bumi 1990 melibatkan 200 juta manusia di seluruh dunia, maka pada Hari Bumi 2000 diperkirakan terlibat 500 juta manusia di seluruh dunia dengan jargon “making history – making change”.

Kondisi Bumi Saat Ini

      Tahukah Anda, bumi yang hanya mengandung 0.03% CO2 di atmosfer, memiliki suhu rata-rata 15 oC. Bandingkan dengan Planet Venus yang mengandung 96.5% CO2 di atmosfernya, memiliki suhu rata-rata 420 oC. Sebaliknya, Planet Mars dengan atmosfer yang sangat tipis dan hampir semua CO2 nya berada di permukaan, memiliki suhu rata-rata -50%. (Planetescapes.com)



      Menurut Arctic Climate Impact Assessment/ACIA (2004), konsentrasi CO2 meningkat tajam selama 250 tahun terakhir ini dan meningkatkan suhu rata-rata bumi. Sumber utama peningkatan emisi CO2 di atmosfer berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan konversi hutan. Sebanyak 80% sumber energy untuk aktifitas manusia berasal dari bahan bakar fosil.



13350529722047961901
       Peningkatan konsentrasi CO2 sebagai salah satu Gas Rumah Kaca dominan menimbulkan Efek Rumah Kaca yang breakibat terjadinya pemanasan global (Global Warming). Tentu sebagai penghuni bumi kita merasakan langsung perbedaan kenyamanan udara di lingkungan kita. Misalnya di Kota Bogor, dulunya tahun 1993, saya merasa nyaman memakai sweater ketika kuliah, kini baju tebal sudah tidak nyaman lagi dipakai. Udara di Kota Bogor yang dikenal dulu sebagai kota hujan nan sejuk kita berubah drastis. Bila siang terasa panas dan mandi pun juga tidak terasa dingin lagi.

“Planet kita, rumah kita yang terabaikan. Perubahan iklim terus berlanjut. Sepertinya tampak ada bencana ekologis baru yang terjadi hampir setiap hari. Hari Bumi, ini saatnya untuk menggerakkan bumi untuk planet kita, rumah kita yang terabaikan. Hari Bumi ini saatnya untuk menggerakkan planet ini dari bawah ke atas untuk mengirim pesan bahwa Bumi tidak akan menunggu!”



Tentu kita tidak lupa berita mengenai suhu ekstrim pada 2011-awal 2012 lalu, akibat tidak sehatnya alam, maka murkalah langit. Diturunkan salju dengan intensitas lebat, dengan suhu yang minus, akibatnya seluruh aktifitas terganggu, Suhu udara mencapai rekor luar biasa rendah. Di wilayah Polandia, temperatur udara sempat berkisar di titik rendah minus 35 derajat Celsius. Ceko bahkan mencatat suhu minus 38,1 derajat pada malam hari. Warga masyarakat pun terisolir. Sekolah-sekolah di Kiev, ibukota Ukraina, sudah terpaksa tutup. Akses jalan, jaringan kereta api, serta pelabuhan dan bandara tidak dapat berfungsi. Pasokan listrik juga terhenti oleh sebab kerusakan infrastruktur dan yang lebih parahnya lagi dapat mengakibatkan kematian akibat suhu tinggi tersebut, sebelum suhu dingin terjadi tidak lupa di benak kita bagaimana suhu panas yang berlangsung cukup lama di Indonesia, kekeringan melanda nusantara. Kita bahkan pernah merasakan suhu 30 derajat keatas terasa di Surabaya. Para peneliti dari firma riset Atmospheric and Environmental Research di AS menemukan sebuah pola yang menunjukkan bahwa musim panas yang lebih panas dari biasanya di Belahan Bumi Utara ternyata mengganggu pola cuaca dan memicu musim dingin ekstrem yang terjadi di kawasan AS dan Eropa.



Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kepunahan manusia juga akan terjadi dengan segera di masa mendatang. Kesadaran diri perlu ditumbuhkan sejak dini untuk menyayangi bumi ini. Setiap komponen di dalam ekosistem berinteraksi dan membutuhkan oleh karena itu, kita harus menyayangi alam dengan cara memelihara dan melestarikannya. Keseimbangan inilah yang harus tetap dijaga agar keanekaragaman sumber daya alam tetap lestari dan terjamin. Keseimbangan alam dapat terganggu atau rusak. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya alamsebaiknya diusahakan secara arif dan bijaksana sesuai keseimbangan alam.

AKIBAT???




Sumber:
www.marinebuzz.com
www.bionomicfuel.com
sandrossoares89.blogspot.com
www.china.org.cn
www.therainmakerblog.com
http://www.forplid.net/artikel/184-sejarah-hari-bumi.html
http://green.kompasiana.com/iklim/2012/04/22/hari-bumi-2012-jangan-buat-bumi-menunggu-ayo-bergerak-456532.html

Old Earth, now, and the future

Minggu, 07 April 2013

What Can We Learn From Amsterdam About Waste to Energy?


What Can We Learn From Amsterdam About Waste to Energy?


The Netherlands has a reputation for being progressive, from the environment to social initiatives.  About twice the size of New Jersey, a large proportion of its landmass is below sea level.  Protected (at least for the moment) by an elaborate system of dikes, the country is a center of creativity, efficiency, and diversity.  It’s a place that is open-minded and broad thinking on everything from social programs to wind energy.  A recent trip to Amsterdam also unveiled it is equally creative with its approach to waste management and water reclamation.
garbage loadingWaste management in the Netherlands is tricky.  With limited land area available to landfill, conventional waste is either incinerated to produce energy or exported elsewhere for disposal.  In the way of waste-to-energy (W2E), Amsterdam has created an incredibly efficient Afval Energie Bedrijf (AEB)   plant capable of producing 1 million MWh of electricity annually.  Beyond the energy factor, the plant is also being used to create district heating for several communities around Amsterdam, and produces 300,000 gigajoules of heat annually.
It gets better.  Right next door to the W2E plant is the Waternet water treatment plant  .  The two plants work symbiotically: the incineration plant supplies energy and heat for water treatment processes; the water treatment plant injects its sludge and biogas into the incineration plant as an additional fuel source.  In one narrow corridor of industrial landscape, Amsterdam manages a large chunk of its municipal functions.
incinerator view The process looks like this: annually, 1.4 million tons of waste is brought to the W2E plant.  This amounts to 600 trucks and 1 freight train per day of refuse from the Amsterdam metropolitan area.  The trash is deposited into a large sorting room where it is sifted and put into the incineration process.  When trash is burnt, the heat is used to boil water.  The superheated steam from this process is used to turn several turbines to generate electricity. Aware of the environmental effects of the gasses from this process, the Dutch have installed a complex process of scrubbing the flue gasses.  It starts with an E-filter to separate the fly-ash.  Next, gas passes through a fabric filter to remove other residues before being passed to an economizer.
turbine room
The gas then passes through a series of other scrubbers to remove harmful gasses and particulates so they do not become airborne: an HCl scrubber yields calcium-chloride, SO2 scrubber produces gypsum, and a polishing scrubber takes out much of the remaining water vapor. 

For many of these byproducts, attempts are being made to close the loop so the material can be used in other industrial processes—from trace elements for manufacturing, to fly ash for construction.  Whatever material is left becomes landfill.
incineration process
By the time the gas makes it out the flue, what remains is mostly water vapor and clean flue gas.  Any other emissions are monitored, and so far have been kept well within Dutch legal limits. Dioxin from the incineration process is captured and safely disposed.
smokestacks
Attention to carbon emissions has been a special focus of the W2E plant and its designers.  As the plant performs several functions (elimination of waste, generation of electricity and heat) simultaneously, it stacks up positively to other disposal methods, actually avoiding 438 kilotons of CO2 per year.  Because of these combined processes, the process reduces the net amount of carbon going into the atmosphere.
As an alternative scenario, if the same 1 million tons of waste were put in landfill, the amount of equivalent CO2 emissions per year would be 1036 kilotons.  This would mainly be as a result of methane gasses developing at the landfill.  If these gasses were either captured or burned off, it would reduce the total emissions to 404 kilotons—still a fairly large amount.
The efficiency of the W2E plant is a major positive factor in the equation.  If waste across the European Union were handled in a similar fashion, engineers estimate that W2E plants could generate 8% of the total EU electrical production by burning 182 megatons of waste, and in the process avoiding 200 million tons of CO2 per year.  It would also free up large amounts of land for other purposes, as from the U.K. to eastern Europe, landfill is unfortunately still the disposal method of choice.
wtp webThe benefits of the W2E plant are compounded when you plug the Waternet plant into the equation.  Waternet handles waste water for 1 million population equivalents, and sludge (e.g. effluents from toilets etc.) for another 2 million population equivalents per year.
The water treatment concept uses biological methods rather than chemical ones to remove phosphate and nitrogen from the water.  Sludge digestion means that energy recovery from biogas is possible in the deep aeration tanks.  This biogas is currently being used at the W2E plant, to provide gas to the natural gas grid, and also to power a small pilot fleet of 120 biogas vehicles.  Annually, Waternet digester gas production equates to 7.5 million cubic meters of natural gas, enough for 5000 households and 3500 cars.
waternet process







By looking holistically at the processes, services, inputs, and outputs of both the W2E and Waternet plants, the Dutch have come up with an elegant solution to many complex problems.  There’s been a clear attempt to close the loop on byproducts, whether it be flue gas particles or biogas from water reclamation.  Careful integration of both waste and water management processes has yielded many efficiencies and benefits that would not be possible under other conventional, stand alone systems.  With this attention to detail and maximizing benefits across the board, both Afval Energie Bedrijf W2E and Waternet stand as excellent examples of what can be achieved with some careful infrastructure planning.
One would hope in the future that Dutch officials would spend equal time and attention to reducing the amount of “waste” that is produced to begin with, and give more emphasis to reduction, elimination, recycling, and composting initiatives.

source : Chris Tobiah, http://www.celsias.com/article/what-can-we-learn-amsterdam-about-waste-energy/

PDF Afval Energie Bedrijf (AEB)
Further Reading for Afval Energie Bedrijf (AEB)
 Further Reading for Waternet Water Treatment Plant
 

Senin, 11 Maret 2013

World's tallest building will be constructed in only 90 days


News: construction is set to begin next month on the world's tallest building in Changsha, China, which will be completed in just 90 days.
Construction firm Broad Sustainable Building (BSB), a subsidiary of China's Broad Group, has corrected earlier reports that its 220-storey Sky City tower would take seven months to complete, telling ConstructionWeekOnline that the skyscraper will be finished at the end of March next year.
Following foundation work that will continue until the end of December, the company said its schedule to construct the 838-metre tower "will go on as planned with the completion of five storeys a day."
"We have not issued any press statement on this and it will go on as planned... we have not said anything about 210 days," said Broad Group senior VP Juliet Jiang, adding that the project is still awaiting approval from the government.
As previously reported on Dezeen, BSB plans to build the tower using pre-fabricated components that slot together like a Meccano toy. On completion, the skyscraper would be taller than Dubai’s Burj Khalifa and include schools, a hospital, 17 helipads and apartments for over 30,000 people. The company has already successfully demonstrated its approach on a smaller scale by constructing a 30-storey tower in 15 days.
Broad Group starts work on world's tallest tower
Above: composite image comparing an earlier design for Sky City with the Chicago skyline
Broad's CEO Zhang Ye claims his pre-fabricated towers are designed with a different load-bearing structure to conventional towers so that they use less concrete and steel and can be produced in factories rather than on-site.
However, some construction experts believe the tower is simply too tall to be built with ready-made parts. Bart Leclercq, head of structures in the Middle East at WSP, the engineering firm behind The Shard in London, warned that documents for Sky City on BSB’s website make no mention of wind load.
"There are forces working on a building that tall, including the wind. It is not a minor thing at that height," he told ConstructionWeekOnline. "By just using these simple units all put together, you are not going to get enough stiffness; this building will have an enormous storey drift, and it will sway."
Read our previous story about BSB's plans to build the world's tallest tower from pre-fabricated parts, or see all our stories about skyscrapers.
Broad Group starts work on world's tallest tower
Above: image shows how Sky City will look once completed in Changsha
Lyndon Neri and Rossana Hu of Shanghai studio Neri&Hu recently told Dezeen that their fellow architects in China are "lost" and need to stem the tide of “half-assed” building projects in the country, while Aric Chen, the creative director of Beijing Design Week, had previously warned that China needs to “slow down” and pay more attention to issues of authenticity, process and identity.
In contrast, Hong Kong-based designer Michael Young told Dezeen earlier this month that China is now "a dream scenario" for designers, with its huge manufacturing base and plenty of investment opportunities on the horizon.