#footer-column-divide { clear:both;background: #3B5998;color:#ffcc66; } .footer-column { padding: 10px; }

UNIVERSITAS INDONESIA

Veritas, Probitas, Justisia

IMS FTUI 2014

Integratif dan Kontributif

Civil Engineering

Proud To Be Civil Engineer

CENS UI 2013

Contribute to our country

OIM FTUI 2014

Ayo sipil pasti bisa rebut juara !!! #SemangatBerprestasi

Tampilkan postingan dengan label Kabar Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Maret 2014

Aksi serentak Earth Hour 2014

Earth-hour-wwf1

JAKARTA - Earth Hour merupakan kegiatan peduli lingkungan yang dipelopori oleh organisasi WWF (World Wide Fund for Nature) Australia, dimulai sejak 2007 dan diadakan pada hari Sabtu terakhir di bulan Maret setiap tahunnya.  

Saat Earth Hour tiba, seluruh warga dunia serentak memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak diperlukan sejak pukul 20:30 hingga 21:30 waktu setempat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan terhadap perubahan iklim serta mengurangi konsumsi listrik.

Asal Usul

Seperti dikutip dari situs Earth Hour, Jumat (26/3/2010), awalnya pada 2004 WWF Australia mencari upaya baru dalam penanggulangan dampak pemanasan global. Maka tercetuslah ide Earth Hour tersebut. Kemudian dalam perkembangannya, dari tahun ke tahun kampanye Earth Hour disambut baik dan didukung oleh masyarakat dan pemerintah.

Selanjutnya pada 2005, WWF Australia bersama dengan agen periklanan Leo Burnett Sydney mendiskusikan ide yang mengusung gagasan bahwa setiap orang bisa bertanggungjawab secara pribadi untuk masa depan bumi. Mereka pun mulai mengembangkan konsep pemadaman lampu dan listrik dalam skala besar. Gagasan ini diberi nama 'The Big Flick'.

Leo kemudian diberi tugas membuat nama kampanye yang bisa mewakili lebih dari sekadar memadamkan lampu. Maka pada 2006, konsep mereka diubah namanya menjadi Earth Hour. Dengan demikian, mereka berharap nama Earth Hour memungkinkan untuk memperluas fokus kampanye dari sekedar mematikan lampu.

Tepat pada 31 Maret 2007, pertamakalinya Earth Hour dilaksanakan di Sydney, Australia. Kala itu, pemadaman lampu dilakukan pada jam 19:30 hingga 20:30 waktu setempat. Sekira 2,2 juta penduduk Sydney dan 2.100 pengelola gedung perkantoran turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kegiatan ini lantas menarik perhatian dunia internasional. Pada tahun-tahun berikutnya, Earth Hour pun kemudian diperingati secara global.

Aksi serentak di Indonesia

WWF-Indonesia bersama Earth Hour Champions mengadakan AKSI SERENTAK:
“Ini Aksiku! Mana Aksimu?” sebagai bagian dari rangkaian kegiatan kampanye Earth Hour yang tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 29 Maret 2014 selama 1 jam mulai 20.30 – 21.30 (waktu setempat). Target aksi adalah untuk mengingatkan masyarakat aksi ramah lingkungan yang mudah dan murah dan dapat dilakukan mulai dari diri sendiri setiap hari.
AKSI SERENTAK di 4 Car Free Day (CFD) selama bulan Februari dan Maret 2014 telah dimulai pada tanggal 16 Februari 2014 lalu bertema mendukung transportasi publik.
Selanjutnya, aksi akan dilakukan di 3 CFD di banyak kota pendukung kampanye di seluruh Indonesia:
1. 23 Februari 2014; Jam 06.30 – 10.00; tema: diet sampah plastik
2. 9 Maret 2014; tema: hemat kertas dan tisu
3. 23 Maret 2014; tema: air dan energi
Aksi yang dilakukan secara bersamaan di lokasi Car Free Day Sudirman – Thamrin:
1. Aksi Pengumpulan Sampah Plastik
Mulai dari Halte Ratu Plaza – Semanggi
Mulai dari Halte Karet – Menara BCA Bundaran HI
Mulai dari Monas – Menara BCA Bundaran HI
2. Aksi Pembuatan Tas Belanja dari Kaos Bekas di Menara BCA Bundaran HI
3. Aksi Pengumpulan Tas Belanja di Menara BCA Bundaran HI
Kali ini, tim kampanye Earth Hour yang bergabung dalam aksi serentak adalah Banda Aceh, Bekasi, Depok, Tangerang, Bandung, Solo, Semarang, Kota Batu, Malang, Surabaya, Sidoarjo, Denpasar, Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Banjarmasin, Palangkaraya, dan Makassar.

“Ini Aksiku! Mana Aksimu?”

Sumber:
http://techno.okezone.com
http://indonesia-now.com

Kamis, 20 Maret 2014

Briket Sabut Kelapa, Bahan Bakar Alternatif yang Ramah Lingkungan

Foto : Pembuatan briket sabut kelapa oleh mahasiswa UNY/UNY
Foto : Pembuatan briket sabut kelapa oleh mahasiswa UNY/UNY

JAKARTA -
 Umumnya, sabut kelapa hanya dibuang begitu saja dan dibiarkan menjadi limbah. Namun, para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) justru memanfaatkanya menjadi bahan bakar alternatif atau briket. Mereka ialah Dewi Purwanti dari program studi (prodi) Kebijakan Pendidikan, Putri Utha C dari prodi Pendidikan Kimia, serta Erba Firstananda dan Desi Analisa Nababan dari prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNY.

Menurut Ketua Kelompok Dewi Purwanti, mereka memilih untuk mendaur ulang limbah sabut kelapa karena beberapa alasan. Salah satunya, mereka ingin mengurangi pencemaran lingkungan yang bisa berdampak pada kesehatan masyarakat di sekitar.
“Masyarakat setempat menjadi merasa tidak nyaman dengan adanya tumpukan sabut kelapa tersebut. Oleh karena itu, kami buat sabut kelapa menjadi briket, selain bermanfaat bagi masyarakat juga dapat mengurangi pemakaian gas elpiji untuk memasak,” tutur Dewi, seperti disitat dari situs UNY, Sabtu (1/2/2014).

Putri Utha mengungkap, mereka bekerjasama dengan masyarakat Dukuh Sorogaten II, Karangsewu, Galur, Kulon Progo untuk melakukan pelatihan pembuatan briket limbah sabut kelapa sebagai energi alternatif. Dengan pelatihan tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. “Kami memilih dukuh Sorogaten karena Sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. Diharapkan juga masyarakat dapat memanfaatkan limbah sabut kelapa tersebut untuk kerajinan lain yang bisa menghasilkan manfaat lain,” kata Putri.

Sebagai dukuh yang merupakan penghasil kelapa, beberapa warga masyarakat di sana menjadi penjual kelapa dan lainnya menjadi pengusaha wingko babat yang menghasilkan limbah sabut dan tempurung kelapa. Selama ini limbah tempurung dan sabut kelapa digunakan sebagai pengganti kayu bakar, akan tetapi panas yang ditimbulkan terlalu tinggi sehingga menyebabkan rusaknya peralatan rumah tangga.

Erba Firstananda mengatakan, briket adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap.
“Briket dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon baik organik maupun anorganik. Sabut kelapa dapat dijadikan bahan alternatif pembuatan briket karena mengandung unsur karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi atau bahan bakar,” ungkap Erba.

Sementara itu, Desi Analisa Nababan berbagi cara pembuatan briket limbah sabut kelapa. Pertama, lanjutnya, siapkan sabut kelapa yang akan dijadikan briket. Kemudian sabut kelapa tresebut dibakar pada tempat pembakaran berupa drum yang diberi lubang sebagai tempat keluarnya asap pembakaran. "Alat dilengkapi dengan pipa pendingin untuk proses kondensasi asap menjadi asap air. Setelah semua bahan terbakar lalu didinginkan selama satu malam, kemudian ditumbuk agar halus dan diayak," urai Desi.

Sementara itu, buat cairan perekat dari larutan tepung kanji yang telah dipanaskan, lalu campurkan arang sabut kelapa dengan lem kanji, dengan perbandingan 600 cc lem perekat dan satu kg arang sabut kelapa. Kemudian cetak adonan sesuai dengan alat cetak atau dengan pipa paralon dan dijemur selama kurang lebih satu hari. Briket pun siap digunakan. (mrg)

Sumber :
http://m.okezone.com

Kamis, 17 Januari 2013

Banjir Jakarta, Masalah Klasik Yang Tak Berujung

     Tahun 2013 dibuka dengan beberapa masalah yang menghampiri Jakarta. Salah satunya adalah banjir yang melumpuhkan berbagai aktivitas warga Jakarta dalam beberapa hari terakhir ini. Meningkatnya curah hujan menjadi salah satu hal yang dikambinghitamkan atas terjadinya banjir Jakarta.

     Namun, masalah ini bukanlah sesuatu hal yang baru bagi warga Jakarta. Hal ini sudah menjadi momok bagi warga Jakarta terutama yang bermukim di kawasan rawan banjir selama beberapa dekade terakhir. Seakan-akan tidak banjir sudah menjadi kutukan kepada Jakarta dan tidak ada solusi maupun seseorang yang dapat mencabut kutukan tersebut

Sekilas Sejarah Banjir di Jakarta

13546161821993932493
Jakarta Tempo Doeloe

     Banjir Jakarta memiliki sejarah panjang. Tercatat bahkan tahun 1878, 134 tahun y.l. pun di Jakarta yang ketika itu masih bernama Batavia sudah terjadi banjir dikarenakan hujan selama 40 hari tidak berhenti-henti. Hampir setiap tahun di Batavia terjadi banjir, dalam [2] mencatat Januari-Februari 1918 di Kampung tanah tinggi, Kampung Lima, Kemayoran Belakang terjadi banjir karena selokan terlalu kecil dan meluapnya Sungai Ciliwung, kemudian tahun 1919, 1923, Desember 1931, Januari 1932, Maret 1933 banjir kembali berulang. Dikatakan di sana karena sering berulang inilah maka warga Batavia telah menganggap banjir sebagai hal yang wajar. Yang menarik dicatat di sini adalah antara 1892-1918 daerah kota lama jarang banjir, hal ini menunjukkan drainase kota di kota lama Batavia lebih baik

     Demikian juga setelah kemerdekaan, Januari 1952, 1953, November 1954, 1956, banjir kembali melanda Jakarta sampai ada karikatur untuk banjir berulang ini. Tahun 1950-1960 tercatat banjir terjadi di daerah Sungai Ciliwung hilir. Tercatat pada bulan Februari 1960 Jakarta mengalami banjir besar, paling parah terjadi di daerah Grogol. Selama ini banjir hanya ditangani oleh masyarakat, baru tahun 1963 masalah banjir ditangani oleh tim khusus bentukan pemerintah.

     Periode tahun 1960-1970 daerah banjir semakin meluas dan penduduk yang tinggal di bantaran sungai semakin banyak. Ditengarai antara tahun 1970-1980 siklus banjir semakin pendek, artinya banjir semakin sering terjadi. 1976 di zaman gubernur Ali Sadikin, terjadi banjir hebat, wakil gubernur A Wiriadinata sampai bermalam di pintu air Manggarai, walikota Jakarta Pusat saat itu melaporkan hampir 8 hektar wilayahnya terendam banjir.

Sejarah Usaha Pengendalian Banjir Jakarta Hingga Kini

1354616695179490593
Kanal Banjir Barat

     Usaha-usaha mengatasi banjir sebetulnya juga sudah dipikirkan pula oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1920 Prof H. van Breen dari BOW (cikal bakal Kementrian Pekerjaan Umum) merilis gagasan untuk membangun dua saluran kolektor yang mengepung kota guna menampung limpahan air, yang selanjutnya akan dialirkan ke laut. Saluran pertama menyusuri tepian Barat kota, yang kedua melalui tepian Timur kota. Karena tepian Barat lebih dekat dengan pusat Kota Batavia maka saluran di tepian Barat dulu yang dibangun dengan nama Kanal kali Malang pada tahun 1922.

     Kanal Kali Malang ini kemudian dikenal Kanal Banjir Barat (KBB) antara Manggarai-Muara Angke sepanjang 17,4 km. Rencananya Kanal Banjir Barat ini akan diperluas tapi karena sulitnya membebaskan tanah, perluasan Kanal Banjir Barat tertunda sebagai gantinya dibuatlah jaringan pengendali banjir lainnya, yakni jaringan kanal dan drainase yang dinamakan Sistem Drainase Cengkareng. Kanal Banjir Barat hanya mampu menampung sampai 370 meter kubik per detik. Antara tahun 1983-1985 telah dibangun pemerintah Cengkareng Drain, Cakung Drain, Sudetan kali sekretaris.

     Sedangkan saluran tepian ke Timur tidak sempat terbangun karena Perang Dunia ke-2. Baru dengan bantuan Netherlands Engineering Consultants, tersusunlah “Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta” pada Desember 1973. Rancangan ini didetailkan lagi lewat desain Nippon Koei pada 1997. Penggalian untuk Kanal Banjir Timurnya sendiri baru dimulai pada tahun 2003. Panjang Kanal Banjir Timur ini 23,6 km dengan daya tampung limpahan air 390 m kubik per detik. Selain itu, BKT juga dilengkapi dengan sistem kolam sedimen berukuran 300 x 350 meter di kawasan Ujung Menteng. Sistem kolam ini berguna untuk menangkap sedimen agar badan kanal tetap leluasa.     
13546174981388247864
Jakarta 1885, diatas Kali Ciliwung yang masih Hijau
13546163321826381747
Letak Jakarta Yang Rendah

Banjir Jakarta 2013
     Curah hujan yang turun sepanjang dua hari terakhir ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan curah hujan harian saat terjadi banjir besar pada 2007. Namun, dampaknya hampir setara. Luapan Sungai Ciliwung merendam kawasan di Jatinegara dan daerah lain yang dilintasinya. Ini persis sama seperti ketika banjir besar melanda Jakarta lima tahun lalu. 

     Secara keseluruhan, banjir merendam hingga 50 kelurahan di Ibu Kota, Selasa lalu. Sampai Rabu 16 Januari 2013, banjir masih bertahan di sejumlah tempat dan memutus ruas jalan, seperti jalan Tangerang-Jakarta di kawasan Ciledug. Total, hampir 10 ribu orang mengungsi.

     Kepala Pusat Studi Bencana Institut Pertanian Bogor, Euis Sunarti, membenarkan. Menurutnya, meski curah hujan di kawasan hulu Ciliwung-Cisadane lebih kecil, dampak ke Jakarta lebih hebat karena daya serap air di kawasan Puncak, Bogor, sudah semakin lemah. Berdasarkan kajian dengan citra satelit, keseimbangan ekologis kawasan Puncak pada awal tahun ini merosot hingga 50 persen dibandingkan pada 15 tahun sebelumnya. 

     Pada saat yang sama, sungai-sungai di Jakarta semakin kehilangan kemampuan mengalirkan air hingga 70 persen karena penyempitan dan pendangkalan. Kondisi ini dan yang terjadi di Puncak bermuara pada banjir di Jakarta yang semakin parah. 

     Penyempitan kali dituding sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya banjir di Jakarta. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Pemprov DKI Jakarta, Ery Basworo, saat dihubungi, Selasa (3/4).

     Menurut Ery, banjir yang melanda sebagian wilayah di Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur, diakibatkan area tangkapan (catchment area) sungai di tiga wilayah tersebut sudah semakin sempit. Rata-rata lebar semua kali di Jakarta hanya lima meter, padahal area tangkapan ideal 20 meter. 

     Banjir tidak hanya dipicu oleh faktor meteorologis, tetapi juga penataan ruang, pendangkalan sungai, dan sebagainya. Jadi, banjir tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan faktor cuaca.






Air Setinggi 30 Sentimeter Rendam Istana SBY
Presiden SBY dan Menlu saat mengamati banjir yang melanda di sekitar Istana Negara (17/1/13)

Solusi ???
     
     Pemerintah telah melakukan berbagai usaha pencegahan dna penanggulangan banjir Jakarta sejak dahulu kala. Pembangunan Banjir Kanal Timur telah dijalankan sejak dulu, namun banjir seolah tidak peduli dengan adanya banjir kanal timur. Beberapa usaha alternatif lain yang mungkin di jalankan antara lain:

1. Pembuatan Bendungan Air Laut
2. Pembangunan Sungai Alur Banjir (Flood Way)
3. Budaya Kebersihan Warga Jakarta
4. Pembuatan Sumur Resapan
5. Deep Tunnel

Berbagai solusi telah ditawarkan para pakar. Beberapa telah dijalankan dan beberapa pula masih dalam tahap pengkajian.Lalu, Bagaimana peran kita sebagai sarjana teknik sipil dalam mengatasi permasalah banjir Jakarta yang seakan tak berujung ini? Apa saja solusi inovatif yang dapat kita tawarkan dalam mengatasi banjir? Seperti yang telah kita ketahui, Teknik Sipil merupakan bidang yang bertanggungjawab atas hajat hidup orang banyak serta hal yang mendukung aktivitas keseharian masyarakat. Sudah seharusnya kita sebagai agent of change lebih peduli terhadap masalah ini dengan memberikan solusi yang solutif. Jangan hanya sekadar menyalahkan Gubernur, menjatuhkan mereka karena tidak bisa mengatasi masalah banjir, atau mengungkit masalah klasik dalam masyarakat sepeti mengumpat "Ah, ini mah salah masyarakat sih yang membuang sampah sembarangan". 

Kita sebagai orang-orang terpilih yang berkesempatan menuntut ilmu teknik sipil dan mengemban amanah untuk membangun negeri ini ke arah yang lebih baik di masa depan sudah semestinya mendukung usaha pemerintah dalam mengatasi banjir dan memberikan solusi-solusi alternatif dan inovatif terhadap permasalahan banjir ini

Semangat Berkarya Membangun Negeri!!


Sumber:
green.kompasiana.com
tempo.co
republika.co.id
ilmusipil.com
sains.kompas.com

IPTEK 2013

Senin, 02 Juli 2012

PANEL DINDING BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN DARI KOMPOSIT LIMBAH PABRIK KERTAS (SLUDGE), SABUT KELAPA DAN SAMPAH PLASTIK: PENGARUH KOMPOSISI BAHAN DAN BEBAN PENGEMPAAN TERHADAP KUAT LENTUR (BENDING)

Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah pabrik kertas (sludge), sabut kelapa
dan sampah plastik sebagai bahan baku pembuatan panel bangunan ramah lingkungan yang
diharapkan memiliki kekuatan/karakteristik mekanik tinggi segingga di masa mendatang dapat
dijadikan sebagai panel bangunan tahan gempa. Dilaporkan dalam penelitian sebelumnya
bahwa kelimpahan limbah pabrik kertas berupa sludge menjadi problem besar dalam industri
kertas di Indonesia dengan limbah mencapai 7,7 juta ton pertahun dan industri kertas yang
terpusat di Surabaya memberikan kontribusi 98% dari seluruh limbah industri yang dibuang ke
Kali Surabaya. Padahal sludge pabrik kertas termasuk kategori B3 yang mengandung logam
berat. Sampai sekarang limbah sludge menjadi problem lingkungan yang belum terpecahkan.
Di pihak lain, Indonesia merupakan penghasil kelapa (kopra) terbesar ke tiga di dunia dan
komponen utama buah kelapa berupa sabut kelapa (35%) belum dimanfaatkan secara optimal.
Ditambah lagi dengan jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 1,6 ton pertahun sehingga
mejadi problem lingkungan yang serius. Selanjutnya Kebutuhan bahan bangunan yang ramah
lingkungan dan tahan gempa merupakan kebutuhan teknologi konstruksi, karena sebagian
besar wilayah Indonesia adalah wilayah rawan gempa. Penelitian ini telah merujuk pada hasilhasil
penelitian sejenis terdahulu kaitannya dengan proses pembuatan dan pengujian
karakteristik mekaniknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi beban pengempaan
pada saat pencetakan panel bangunan dan komposisi sabut kelapa (% b/b) ternyata
berpengaruh secara signifikan terhadap karakteristik mekaniknya. Diperoleh kuat lentur
(bending) optimal, yakni 77,81 kg/cm2 dengan beban pengempaan 2000 bars dan komposisi
sabut kelapa sebesar 2 % (b/b). Hasil penelitian ini akan dikembangkan secara komprehensif
kaitannya dengan pencapaian hasil yang lebih optimal.

Kata-kata kunci: limbah pabrik kertas, sabut kelapa, sampah plastik

Dikutip dari paper karya :
Fajriyanto dan Feris Firdaus
Pusat Penelitian Sain dan Teknologi, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Email: fajriyanto@ftsp.uii.ac.id

Kamis, 19 April 2012

Newsletter dari GYC (GARUDA YOUTH COMMUNITY)

Teman-teman Sipil Lingkungan tercinta, kita saat ini dapat tautan link yang isinya Newsletter dari Garuda Youth  Community. Bisa langsung di cek untuk menambah wawasan kita semua :)

Edisi Oktober 2011 (#003)
http://www.4shared.com/document/0aw1bSUY/GYC_Newsletter_Oktober_2011.html?


Edisi November 2011 (#004)
 http://www.4shared.com/document/MCXZXxUU/GYC_Newsletter_November_2011.html?



 Edisi Desember 2011, Januari dan Febuari 2012 silahkan kunjungi:
www.gycforchange.org

Rabu, 07 Maret 2012

WATER SCARCITY

While the world's population tripled in the 20th century, the use of renewable water resources has grown six-fold. Within the next fifty years, the world population will increase by another 40 to 50 %. This population growth - coupled with industrialization and urbanization - will result in an increasing demand for water and will have serious consequences on the environment.

People lack drinking water and sanitation


Photo by ADMVB bokidiawe@yahoogroupes.fr
Already there is more waste water generated and dispersed today than at any other time in the history of our planet: more than one out of six people lack access to safe drinking water, namely 1.1 billion people, and more than two out of six lack adequate sanitation, namely 2.6 billion people (Estimation for 2002, by the WHO/UNICEF JMP, 2004). 3900 children die every day from water borne diseases (WHO 2004). One must know that these figures represent only people with very poor conditions. In reality, these figures should be much higher.
  

Water resources are becoming scarcity

Agricultural crisis

 
Although food security has been significantly increased in the past thirty years, water withdrawals for irrigation represent 66 % of the total withdrawals and up to 90 % in arid regions, the other 34 % being used by domestic households (10 %), industry (20 %), or evaporated from reservoirs (4 %). (Source: Shiklomanov, 1999)
 
As the per capita use increases due to changes in lifestyle and as population increases as well, the proportion of water for human use is increasing. This, coupled with spatial and temporal variations in water availability, means that the water to produce food for human consumption, industrial processes and all the other uses is becoming scarce.
 

Environmental crisis

 
It is all the more critical that increased water use by humans does not only reduce the amount of water available for industrial and agricultural development but has a profound effect on aquatic ecosystems and their dependent species. Environmental balances are disturbed and cannot play their regulating role anymore. (See Water and Nature)
 
 

The concept of Water Stress

Source: WaterGAP 2.0 - December 1999

Water stress results from an imbalance between water use and water resources. The water stress indicator in this map measures the proportion of water withdrawal with respect to total renewable resources. It is a criticality ratio, which implies that water stress depends on the variability of resources. Water stress causes deterioration of fresh water resources in terms of quantity (aquifer over-exploitation, dry rivers, etc.) and quality (eutrophication, organic matter pollution, saline intrusion, etc.) The value of this criticality ratio that indicates high water stress is based on expert judgment and experience (Alcamo and others, 1999). It ranges between 20 % for basins with highly variable runoff and 60 % for temperate zone basins. In this map, we take an overall value of 40 % to indicate high water stress. We see that the situation is heterogeneous over the world.
 

An increase in tensions

 
As the resource is becoming scarce, tensions among different users may intensify, both at the national and international level. Over 260 river basins are shared by two or more countries. In the absence of strong institutions and agreements, changes within a basin can lead to transboundary tensions. When major projects proceed without regional collaboration, they can become a point of conflicts, heightening regional instability. The Parana La Plata, the Aral Sea, the Jordan and the Danube may serve as examples. Due to the pressure on the Aral Sea, half of its superficy has disappeared, representing 2/3 of its volume. 36 000 km2 of marin grounds are now recovered by salt.
 

 

Towards a way to impove the situation

"There is a water crisis today. But the crisis is not about having too little water to satisfy our needs. It is a crisis of managing water so badly that billions of people - and the environment - suffer badly."  World Water Vision Report
  
With the current state of affairs, correcting measures still can be taken to avoid the crisis to be worsening. There is a increasing awareness that our freshwater resources are limited and need to be protected both in terms of quantity and quality. This water challenge affects not only the water community, but also decision-makers and every human being. "Water is everybody's business" was one the the key messages of the 2nd World Water Forum.
 
Saving water resources
 
Whatever the use of freshwater (agriculture, industry, domestic use), huge saving of water and improving of water management is possible. Almost everywhere, water is wasted, and as long as people are not facing water scarcity, they believe access to water is an obvious and natural thing. With urbanization and changes in lifestyle, water consumption is bound to increase. However, changes in food habits, for example, may reduce the problem, knowing that growing 1kg of potatoes requires only 100 litres of water, whereas 1 kg of beef requires 13 000 litres.
 
Improving drinking water supply
 
Water should be recognized as a great priority. One of the main objectives of the World Water Council is to increase awareness of the water issue. Decision-makers at all levels must be implicated. One of the Millenium Development Goals is to halve, by 2015, the proportion of people without sustainable access to safe drinking water and sanitation. To that aim, several measures should be taken:
  • guarantee the right to water;
  • decentralise the responsibility for water;
  • develop know-how at the local level;
  • increase and improve financing;
  • evaluate and monitor water resources.
Improving transboundary cooperation
 
As far as transboundary conflicts are concerned, regional economic developement and cultural preservation can all be strengthened by states cooperating of water. Instead of a trend towards war, water management can be viewed as a trend towards cooperation and peace. Many initiatives are launched to avoid crises. Institutional commitments like in the Senegal River are created. In 2001, Unesco and Grenn Cross International have joined forces in response to the growing threat of conflicts linked to water. They launched the joint From Potential Conflicts to Co-Operation Potential programme to promote peace in the use of transboundary watercourses by addressing conflicts and fostering co-operation among states and stakeholders. 

More about this program: www.gci.ch/en/programs/natural_02.htm
www.unesco.org/water/wwap/pccp

Recommended :
http://www.globalgiving.co.uk/pr/3900/proj3886a.html?rf=ggadgguk_goog_holi_wwaterd_1&gclid=CLiugu6x1K4CFUN66wod8Avtdw
http://water.org/water-crisis/water-facts/water/

Minggu, 22 Januari 2012

Banyak partner, satu sitem: peringatan dini terhadap ancaman bajir yang terintegrasi untuk Jakarta


Jakarta, Indonesia

(From UNISDR, Local Governments and Disaster Risk Reduction – Good practices and lessons learned, Geneva, April 2010)

Jakarta, ibukota Indonesia, memiliki risiko tinggi terhadap banjir – merupakan kota pantai (coastal city) dan menjadi muara 13 sungai. Sebanyak 40 persen tanah Jakarta berada di bawah muka laut dan memiliki 110 pulau. 

Kamis, 05 Januari 2012

Hi Manusia

Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku.

Minggu, 18 Desember 2011

Meneropong Hasil UNFCCC COP17: Durban Platform

15 DESEMBER 2011 

OLEH : EKA MELISA DAN NUR R. FAJAR, TIM STAF KHUSUS PRESIDEN BIDANG PERUBAHAN IKLIM

Konvensi Perubahan Iklim PBB (United Nations Framework on Climate Change Convention/UNFCCC) akhirnya ditutup pada Minggu Subuh tanggal 11 Desember 201, tiga puluh enam (36) jam setelah batas waktu yang telah ditetapkan (Jumat, 9/12/11).