#footer-column-divide { clear:both;background: #3B5998;color:#ffcc66; } .footer-column { padding: 10px; }

UNIVERSITAS INDONESIA

Veritas, Probitas, Justisia

IMS FTUI 2014

Integratif dan Kontributif

Civil Engineering

Proud To Be Civil Engineer

CENS UI 2013

Contribute to our country

OIM FTUI 2014

Ayo sipil pasti bisa rebut juara !!! #SemangatBerprestasi

Minggu, 28 Oktober 2012

Pengolahan Limbah dengan Metode Fukuoka


 Metode Fukuoka berasal dari Jepang dan mulai dikenalkan di tahun 1966. Nama Fukuoka berasal dari pembangunan metode ini yang bekerja sama antara Universitas Fukuoka dan Kota Fukuoka. Metode Fukuoka merupakan metode pengolahan sampah oleh pemerintah dengan Universitas Fukuoka dengan menerapkan metode semi-aerobik. Sistem pengolahan limbah semi-aerobik (metode Fukuoka) dapat digambarkan sebagai penimbunan sampah secara berlapis. Setiap lapisan biasanya diberi dua pipa yang berguna untuk menyalurkan air lindi dan gas metana. Pipa pengumpul dalam sistem ini terdiri atas batu-batuan dan pipa perforasi yang dipasang di bawah lahan urug (landfill). Tujuan dari pipa pengumpul ini adalah untuk membuang air lindi secepatnya dari sistem. Air lindi akan sedapat mungkin dicegah agar tidak ke permukaan kemudian ditampung di bak penampungan dan kemudian dimurnikan sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali. Dengan metode Fukuoka, panas yang dihasilkan oleh dekomposisi mikrobiologi sampah yang menaikkan suhu lahan urug akan dialirkan melalui pipa pengumpul dengan ventilasi alami. Keadaan ini justru mempercepat dekomposisi sampah.
Keuntungan dari metode Fukuoka adalah :
1.      Air lindi dapat dibuang dengan cepat karena adanya pipa sehingga tekanan air bawah lapisan sampah dapat berkurang, rembesan air lindi juga berkurang dan menjaga keanekaragaman hayati di TPA.
2.      Udara di sekitar TPA terasa segar serta adanya pemurnian air lindi dalam waktu yang singkat.
3.      Emisi metana (yang memiliki dampak terhadap pemanasan global) berkurang, namun emisi CO2 meningkat.
4.      Dengan metode Fukuoka, kita dapat menerapkan peningkatan pengelolaan pengolahan limbah padat dengan biaya investasi awal yang rendah.
5.      Pipa-pipa pada metode ini dapat memperbesar wilayah aerobik pada tumpukan sampah.
6.      Proses stabilisasi TPA tergolong cepat.
Metode Fukuoka merupakan satu dari teknologi pengolahan limbah yang dapat dimanfaatkan di banyak tempat di dunia. Tidak seperti tempat pembuangan sampah anaerob yang mengumpulkan biogas, desain interior TPA dipertahankan dalam keadaan aerob sebanyak mungkin dengan tujuan stabilisasi yang cepat dan pelestarian lingkungan. (yyy)


REFERENSI :

Anonim. “The Fukuoka Method” (semi-aerobic landfill) attracts the attention of the world.
RWANDA Press. 2009. Press Release “Fukuoka Method” Experts Mission to Rwanda Japanese Waste Management METHOD Workshop at Kigali Serena Hotel.
Anonim. 2010. The Fukuoka Method Semi-aerobic Landfill Type. Fukuoka Municipal Gov Japan.
Riyadi, Dikdik dan Hadianto. 2008. Buletin Geologi Tata Lingkungan, Vol. 18 No. 2, November 2008 : 1-11, Analisis Kelayakan Geologi Lingkungan dalam Penataan Ruang Rencana Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Sampah Terpadu Blang Bintang Provinsi NAD. Nangroe Aceh Darussalam.
Matsufuji, Kouji. 2007. Caution for Application of “Fukuoka Method”. JICA-Kyushu International Center.

Jumat, 12 Oktober 2012

BANGUNAN HIJAU DI DUNIA

Ternyata Sipil memang cinta Lingkungan dan itu terbukti. Banyak diantara bangunan-bangunan di dunia yang terkenal dengan kehijauannya loh...

Berikut adalah beberapa bangunan hijau yang ditemukan IPTEK.

Musee du Quai Branly, Paris:

Musee du Quai Branly, ParisVertical gardens inhabit the walls of the Musee du Quai Branly in Paris. Created by P Blanc, botanist and a vertical landscape designer best know for this gorgeous living walls on the Musée du Quai Branly in Paris.

Restaurant Lined Wth A Living Green Wall:

Restaurant Lined Wth A Living Green WallDesigned by Serrano Cherrem Architects, the serene landscape seats in between a living wall, wood, and an incredible glass enclosure, at Restaurant Japonez in Mexico City.

Siam Paragon Shopping Center:

Siam Paragon Shopping Center (3) 1(Image credit: pingmag).

Siam Paragon Shopping Center (3) 2Siam Paragon Shopping Center (3) 3(Image credit: skyscrapercity).
Here is a beautiful demonstration how Plant Walls use water. "A network of perforated plastic pipes run throughout the structure. Every four minutes, under the control of an electronic timer, droplets of nutrient solution are released from the perforations, which are spaced 20 cm to 25 cm apart (approx. 8 in. -10 in.)."

Pershing Hall Hotel, Paris, France:

Pershing Hall Hotel, Paris, FranceThis wall in Paris's boutique Pershing Hall Hotel.

Green Shop:

Green Shop (6) 1Here we have the green shop of the Belgian designer Ann Demeulemeester, a project by architect Minsuk Cho. The building is covered with real grass and plants. More

Green Fortune's Plantwall:

Green Fortune's PlantwallPlantwall is a vertical wall of greenery. It allows for all of the enhancing elements of indoor greenery which doesn't take much of the floor space too. Water comes in via an integrated drip irrigation system.

Schiavello's Vertical Gardens:

Schiavello's Vertical GardensA perfect solution for those who wish to have indoor greenery but cant due to shortage of space.

Tower Flower:

Tower Flower (5) 1It looks like a huge display of potted plants - 'Tower Flower' a 10-storey building by architect Edouard Francois, can also be called the 'Bamboo Building' for reasons that are immediately obvious.

Changi Airport, Singapore:

Changi Airport, SingaporeThe Green Wall is a major feature at Singapore Changi Airport.

Oulu's Living Wall:

Oulu's Living WallCited as Brooklyn's first living wall, the Oulu attracts attention with its huge external living wall.

Green wall - Indoor Landscaping:

Green wall - Indoor Landscaping (5) 1Green Wall system for a laminar, vertical growth of small leaved plants, which has an astonishing effect on the interior design, both visual, and climatic. More

Consorcio Building Concepcion:

Consorcio BuildingLiving green walls wraps this building.

Gordon Graff's Sky Farm:

Gordon Graff's Sky FarmIt has 2.7 million square feet of floor area, 8 million square feet of growing area with 58 floors and can produce as much as a thousand acre farm, feeding 35 thousand people per year.

World's First 30 Story Vertical Farm:

World's First 30 Story Vertical Farm(Image credit: verticalfarm).
"The $200 million dollar project is designed to be a functional and profitable working farm growing enough food to feed 72,000 people for a year."

BHVHomme:

BHVHommeThe vertical garden at the Parisian department store.

Harmonia 57:

Harmonia 57Harmonia 57 by French-Brazilian architects Triptyque is an office building in São Paulo with a planted front irrigated by a mist system.

Green Building:

Green Building(Image credit: urbanplanningblog).

Genoa's Nave Aquarium:

Genoa's Nave AquariumBlanc's Plant Wall at the aquarium measures 18m x 4m.

Osaka Green Building:

Osaka Green Building(Image credit: quirkyjapan).

Qantas First Lounge, Sydney International Airport, Australia:

Qantas First Lounge, Sydney International Airport, AustraliaA vertical garden in the arrival area designed by international botanist P Blanc.

The Living Wall At Vancouver Aquarium:

The Living Wall At Vancouver Aquarium:The living wall at Vancouver Aquarium was designed to educate visitors about the benefits of green walls.

The Living Tower:

The Living TowerThe Living Tower, by Pierre Sartoux presents a beautiful solution to lack of space in urban centers in near future.

Organic Wallpaper Inside A Private Home:

Organic Wallpaper Inside A Private HomeCreated by P Blanc.

Girbaud, Paris:

Girbaud, ParisResidence Antilia:

Residence AntiliaIt's designed by SITE and called Residence Antilia, the scheme is being developed by Indian tycoon Mukesh Ambani, chairman of Reliance Industries.

Parabienta Living Wall:

Parabienta Living WallThe living wall is called 'Parabienta', is light, can be designed in different patterns and grids, and cools the building significantly and above all it's cost effective.

Guggenheim Museum, Bilbao, Spain:

Guggenheim Museum, Bilbao, Spain (Image: Credit).
Created by artist Jeff Koons, this forty-three foot 'plant puppy' is commissioned in 1992; it was created using a steel substructure with an internal irrigation system and numerous plants.

Living Walls, Netherlands:

Living Walls, NetherlandsUsing rock wool for the growing medium, this interesting living wall was developed.

21st Century Museum of Contemporary Art:

21st Century Museum of Contemporary Art(Image credit: businessweek).

Emporium Shopping Center:

Emporium Shopping CenterThis elevator in Bangkok's Emporium shopping center stretches vertical horticulture to a height of more than 30m (98 ft.). 



Source : http://www.crookedbrains.net/2009/04/garden.html

Kamis, 04 Oktober 2012

MARI MENIRU SISTEM PENGOLAHAN SAMPAH JEPANG

  
Sumber : http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/06/29/ayo-meniru-metode-pengolahan-sampah-ala-jepang/

Kebersihan mungkin adalah suatu kata yang hampir bosan kita dengar karena sudah didengungkan ke telinga kita sejak masih kecil hingga usia dewasa. Kebersihan seakan jadi mimpi tak berwujud bagi sebagian penduduk Indonesia. Suatu kata yang begitu indah didengar tetapi begitu sulit diwujudkan. Bahkan kota yang mempunyai jargon “kota bersih” di embel-embel namanya juga tidak lepas dari sampah berserakan. Bagi sebagian orang, membuang sampah adalah membuang sampah dalam arti yang sebenar-benarnya, dibuang begitu saja tanpa peduli lagi dengan dampaknya ke lingkungan sekitar, yang penting sampah itu jauh darinya.
Persoalan sampah mungkin menjadi masalah tanpa solusi bagi negara-negara berkembang, namun tidak bagi negara maju. Contohnya dii Jepang persoalan sampah mendapat perhatian serius pemerintah dengan menerapkan aturan yang ketat dalam hal pembuangan sampah. Menurut beberapa sumber, pada era 1960-an kondisi kota Tokyo tidak jauh beda dengan kondisi kota-kota di Indonesia dengan sampah yang berserakan. Namun jangan pernah membayangkan hal yang sama terjadi di era sekarang. Mungkin banyak di antara teman-teman yang pernah ke Jepang begitu tercengang melihat kebersihan lingkungan di Jepang. Sampah berserakan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pemandangan harian beberapa sudut kota di Indonesia bukanlah pemandangan yang mudah dijumpai di Jepang atau boleh dibilang hampir mustahil ditemukan karena saking bersihnya.
Sebagai bagian dari keseharian anda di Jepang, memahami tentang aturan membuang sampah adalah hal yang harus anda lakukan sejak hari pertama anda menginjakkan kaki anda di negera matahari terbit ini. Tiap-tiap daerah di Jepang mempunyai aturan yang sedikit berbeda satu sama lain, tergantung Tempat Pengolahan Sampah terpadu yang tersedia di daerah tersebut. Namun secara umum cara pemisahan sampah di Jepang dapat dilihat seperti ditunjukkan dalam gambar berikut.

Jika anda belum mampu membaca tulisan Jepang, perhatikan saja gambar yang ditampilkan, yang menunjukkan pengkategorian sampah dilihat dari jenisnya. Masing-masing sampah tersebut sudah diatur sedemikian rupa kapan jadwal pembuangan sampah bisa dilakukan dan bagaimana cara membuangnya. Jika kita membuang sampah tidak pada hari yang ditentukan, petugas sampah tidak akan mengambil sampah yang kita tempatkan di bak sampah kita dan umumnya diberi peringatan yang ditulis di bak sampah tersebut kalau kita salah membuang sampah. Dalam beberapa kasus (tergantung daerahnya) jika pelanggaran itu dilakukan berulang-ulang akan ada hukuman berupa denda.
Pengetahuan tentang bagaimana cara membuang sampah dengan cara memisahkan sampah sesuai jenisnya tidak hanya diperlukan bagi mereka yang tinggal di jepang dalam periode lama saja. Bagi anda yang melakukan kunjungan singkat ke Jepang untuk keperluan seminar atau rekreasi misalnya kebiasaan ini juga harus anda perhatikan. Umumnya di tempat-tempat umum di Jepang tersedia tempat sampah untuk membuang sampah, yang terdiri dari berbagai macam tempat sampah berdasarkan jenis sampah yang boleh ditaruh. Ada tempat sampah untuk sampah yang bisa dibakar, ada tempat sampah untuk sampah yang tida bisa dibakar, ada tempat sampah untuk botol dan kaleng, dan sebagainya.
Dulu sewaktu tinggal di asrama Kampus, yang masuk wilayah midoriku Yokohama,  mueru gomi (sampah yang bisa dibakar) hanya boleh dibuang pada hari senin dan Jumat saja. mueranai gomi (sampah yang tidak bisa dibakar) hanya boleh dibuang setiap hari rabu. Sampah jenis aluminium hanya bisa dibuang hari selasa minggu ke-2 dan ke-4 saja. dan seterusnya. Untuk lebih detailnya tentang aturan membuang sampah di area Midoriku Yokohama perhatikan gambar-gambar berikut yang saya ambil dari buku aturan petunjuk cara membuang sampah untuk kawasan midoriku yokohama (klik untuk memperbesar tampilan gambar). Saat pindah ke apartemen di wilayah Tokyo, aturan dan jadwal pembuangan sampah berbeda, jadi harus mengikuti petunjuk yang dikeluarkan oleh city office.






Semoga metode pengolahan sampah ini bisa dilaksanakan juga di Indonesia