#footer-column-divide { clear:both;background: #3B5998;color:#ffcc66; } .footer-column { padding: 10px; }

UNIVERSITAS INDONESIA

Veritas, Probitas, Justisia

IMS FTUI 2014

Integratif dan Kontributif

Civil Engineering

Proud To Be Civil Engineer

CENS UI 2013

Contribute to our country

OIM FTUI 2014

Ayo sipil pasti bisa rebut juara !!! #SemangatBerprestasi

Sabtu, 15 November 2014

Selamat!


Lagi-lagi UI kembali berjaya di kancah perlombaan nasional.

SELAMAT kepada
Tim Khatulistiwa UI
Betania Caesariratih S'12
Dwi Mayang S'12
Randy Dharmawan S'12
sebagai JUARA Lomba Inovasi Bahan Bangunan ICEF IPB 2014!!

dan

SELAMAT kepada
Tim Ecopolis UI
Christian Antoni S'12
Irene Alma L'12
Tiara L'12
sebagai JUARA 3 Lomba Ecovillage ICEF IPB 2014!!

Extremely proud of all of yout!
Keep up the good achievements!

IPTEK Event : Workshop Keilmiahan Sipil

Dalam rangka menumbuhkan rasa semangat keilmiahan untuk mahasiswa baru 2014 Departemen Teknik Sipil UI, kami IPTEK IMS mengadakan proker yaitu Workshop Keilmiahan Sipil. Dalam workshop ini, mahasiswa baru 2014 dikenalkan dengan berbagai macam bentuk karya ilmiah seperti jurnal, essay, makalah dan paper. Bentuk-bentuk karya ilmiah tersebut nantinya akan banyak ditemui di dunia perkuliahan teknik sipil dan lingkungan. Proker ini juga melatih mahasiswa baru 2014 untuk membuat satu buah karya ilmiah, dalam hal ini yang dibuat adalah paper. Paper tersebut dikerjakan secara berkelompok sehingga mahasiswa baru juga dapat melatih kerjasama, dan manajerial waktu.

Berikut ini adalah salah satu paper terbaik mahasiswa baru 2014 :)


Dampak Kebiasaan Warga Kutek Membakar Sampah bagi Kesehatan dan Lingkungan

Studi Kasus : Kutek, Kukusan, Depok, Indonesia

Abstrak

Membakar sampah adalah sebuah kegiatan yang tak lepas dari keseharian beberapa masyarakat di Indonesia. Membakar sampah seringkali dianggap sebagai solusi cepat dalam menghilangkan tumpukan sampah. Akan tetapi, membakar sampah menghasilkan gas-gas yang membahayakan kesehatan kita seperti dioxin, karbon monoksida, klorin, benzopirena, partikel debu, polycyclic aromatic hydrocarbons, volatile organic compounds, hexachlorobenzene, dan abu. Dan juga mengganggu warga sekitar.


Kata kunci : Sampah, Pencemaran, Kesehatan, Lingkungan


Lebih lengkap, email : iptekims2014@gmail.com

IPTEK Event : Seminar Series "Giant Sea Wall : Our Future Megaconstruction"

Perkembangan peradaban manusia yang pesat merupakan tolak ukur dari kesejahteraan peradaban tersebut. Namun kemajuan peradaban yang tak diselaraskan dengan aspek ekologi justru dapat melenyapkan peradaban. Sejarah mencatat tak sedikit peradaban runtuh akibat bencana alam yang
disebabkan ulah manusia.

Jakarta dengan perkembangan dan pembangunan yang begitu pesat telah menjadikannya salah satu kota penting di dunia. Kini penduduknya telah mencapai 10 juta jiwa dan masih bertambah. Penyedotan air tanah untuk kebutuhan air domestik maupun komersial yang berlebihan dan tak sesuai area menyebabkan penurunan tinggi tanah dengan cepat. Diprediksikan tinggi tanah di utara Jakarta akan turun 7 meter pada 2080 sehingga permukaan tanah akan lebih rendah dari permukaan laut. Hal ini akan memperbesar kerusakan dari banjir rob. Bila tidak dicegah, pesisir Jakarta akan tenggelam dalam waktu yang relatif singkat. Pemerintah Indonesia kini telah bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk mencanangkan proyek Giant Sea Wall. Giant Sea Wall sendiri merupakan salah satu proyek dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang bertujuan untuk melindungi dan mengembangkan pesisir ibu kota negara. Hal ini sangat diantisipasi oleh seluruh lapisan masyarakat khususnya pada bidang teknik sipil dan lingkungan.

Untuk itu, kami Ikatan Mahasiswa Sipil FTUI mengadakan seminar yang bertemakan "Giant Sea Wall : Our Future Mega Construction" pada tanggal 13 Oktober 2014. Seminar ini diisi oleh dua orang pembicara yang berkompeten dalam bidangnya yaitu Dr. Ir. Firdaus Ali, M.Sc. dan Ir. Sawarendro. Seminar ini terbagi jadi 3 sesi, yaitu:
1. Kebutuhan Jakarta akan Giant Sea Wall
- Apa itu Giant Sea Wall?
- Latar belakang Giant sea wall
- Kenapa harus giant sea wall?

2. Infrastruktur Giant Sea Wall
- Perencanaan dan pembiayaan Giant Sea Wall
- Konstruksi Giant Sea Wall: struktur, geoteknik, sumber daya air
- Maintenance konstruksi

3. Dampak Giant Sea Wall dari segi ekologi dan sosial
- Dampak Giant Sea Wall dari segi ekologi
- Dampak Giant Sea Wall dari segi sosial
- Maintenance lingkungan




Acara ini sangat disambut antusias oleh mahasiswa DTS UI. Terimakasih telah datang di Seminar Series ke-2 kami :)

Lagi-lagi SIPIL UI Juara!

Selamat Siang SIPIL!!!
SELAMAT kepada Tim
M. Irpan Sejati Tassaka L'11
Lady Chair Raza L'11
Andini L'11
sebagai JUARA 2 LKTI Public Health Expo FKM UI
dengan judul karya "Perancangan dan Strategi Penerapan Pengolahan Greywater Menggunakan Constructed Wetland sebagai Alternatif Peningkatan Sanitasi Berbasis Masyarakat"

dan SELAMAT kepada Tim
Mitria Widianingtias L'11
Tyas Putri Sativa L'11
Indah Alfira Chairunnisa L'11
sebagai JUARA 3 LKTI Public Health Expo FKM UI
dengan judul karya "Penerapan Waste Water Garden sebagai Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga (Grey Water) pada Skala Perumahan"


Kabar Gembira untuk Teknik Sipil UI!

GOOD NEWS EVERYONE!!!!SELAMAT kepada teman-teman Kontingen Teknik Sipil UI yang berhasil menjadi JUARA UMUM di CIVEX ITS 2014!!!

-. JUARA 3 dan JUARA FAVORIT Lomba Rancang Jembatan
TIM DAKARA : Dan Rezky V. S’11, Artina Sanadia S’11, Salman Hafizh S’11

-. JUARA 1 Lomba Geoteknik
TIM ESSA : Nastiti Tiasundari S’11, Sepinia Indrawati S’11, Azzah Balqis S’11

-. JUARA 2 Lomba Rancang Pelabuhan
TIM PORTable : Rahmat Nur Dian S’11, Agi S’11, Nina Kade Nirmala S’10

-. JUARA HARAPAN 3 Lomba Rancang Beton
TIM ARENNATA: Lusiana Indrawati S’11, Junaidi Siddiq S’11, Nopat S’12

Dengan mencapai juara dari keempat cabang lomba Civil Expo ITS 2014, maka kontingen Sipil UI berhasil meraih JUARA UMUM CIVIL EXPO ITS 2014!

Terima kasih atas kerja keras seluruh kontingen dan seluruh dukungan dan semangat teman-teman sipil. Semoga kedepannya Sipil UI makin jaya dan berprestasi. ‪#‎KAMIBANGGASIPILUI‬ ‪#‎JUARATERUS ‪#‎BERPRESTASI‬

Rabu, 20 Agustus 2014

Pengaruh Air Terhadap Kualitas Beton

Kualitas air sangat mempengaruhi kekuatan beton. Kualitas air erat kaitannya dengan bahan-bahan yang terkandung dalam air tersebut. Air diusahakan agar tidak membuat rongga pada beton, tidak membuat retak pada beton dan tidak membuat korosi pada tulangan yang mengakibatkan beton menjadi rapuh.
Pada pengecoran beton pembuatan rumah sederhana atau tidak bertingkat, kebanyakan tukang mengira, semakin encer beton, semakin bagus karena permukaan yang dihasilkan semakin mulus, tanpa ada rongga, padahal,  dengan kelebihan air, mutu beton akan anjlok sangat jauh. ini disebabkan faktor air semen yang tinggi dalam beton menyebabkan banyak rongga setelah airnya mengering.

Banyak hal-hal lain yang bisa berdampak karena pemakaian air, berikut ini uraiannya :
  1. Air tidak mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter karena dapat mengurangi daya lekat atau bisa juga mengembang (pada saat pengecoran karena bercampur dengan air) dan menyusut (pada saat beton mengeras karena air yang terserap lumpur menjadi berkurang).
  2. Air tidak mengandung garam lebih dari 15 gram karena resiko terhadap korosi semakin besar.
  3. Air tidak mengandung khlorida lebih dari 0,5 gram/liter karena bisa menyebabkan korosi pada tulangan.
  4. Air tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter karena dapat menurunkan mutu beton sehingga akan rapuh dan lemah.
  5. Air tidak mengandung minyak lebih dari 2 % dari berat semen karena akan mengurangi kuat tekan beton sebesar 20 %.
  6. Air tidak mengandung gula lebih dari 2 % dari berat semen karena akan mengurangi kuat tekan beton pada umur 28 hari.
  7. Air tidak mengandung bahan organik seperti rumput/lumut yang terkadang terbawa air Karena akan mengakibatkan berkurangnya daya lekat dan menimbulkan rongga pada beton.
Syarat air menurut SK SNI 03-2847-2002 adalah :
Air yang dapat digunakan dalam proses pencampuran beton adalah sebagai berikut :
  1. Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan.
  2. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang didalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.
  3. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama dan hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa, terkecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai dengan “Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” (ASTM C 109 ). 

Sumber: http://tssp.semenpadang.co.id

Konstruksi Jembatan Tol Bali

Jalan Tol Benoa- Ngurah Rai- Nusa Dua sepanjang  10 km pertengahan tahun 2013 ini mungkin sudah dapat dioperasikan sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang dibangun diatas laut, setelah sebelumnya, Jembatan Tol Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura terlebih dahulu dioperasikan Juni 2009 lalu. Jalan Tol yang mulai dibangun awal tahun 2012 dan terbentang di atas teluk Benoa, akan menjadi ikon baru Pulau Bali.

Kegiatan pemancangan tiang sebagai landasan jalan tol yang berada di atas laut tersebut pada awalnya dilakukan dengan menggunakan tongkang untuk mengangkut tiang (pile slab) serta derek (crane) terapung untuk mengangkat dan memasang tiang di dalam laut. Namun pada beberapa titik tertentu, utamanya Paket 3, Paket 4 dan Paket 1, dimana kedalaman laut terlalu dangkal dan tidak memungkinkan dilalui oleh tongkang yang mengangkut berbagai peralatan untuk melaksanakan konstruksi jalan tol.
Hingga akhirnya ditemukan metode pembangunan jalan tol tersebut, yaitu dengan membangun jalan kerja disepanjang trase jalan tol, yang terbuat timbunan batu kapur, atau limestone. Sifat batuan sedimen limestone yang terdiri dari kalsium carbonate atau mineral calcite berasal dari organisme laut, sehingga pembuatan jalan kerja menggunakan batu kapur ini tidak mengganggu habitat dan biota laut.
Direncanakan segera setelah konstruksi selesai, timbunan batu kapur tersebut akan dikeruk kembali sehingga tidak akan membendung atau mengganggu arus air laut yang melewati sela-sela tiang pancang jalan tol tersebut. Hingga Januari 2013, sebanyak 163.000 m3 timbunan batu kapur telah dipergunakan untuk membangun jalan kerja,dan dirasakan sangat efektif dan efisein dalam mempercepat proses pembangunan jalan tol tersebut.
Metode pembangunan jalan tol dengan membangun jalan kerja dengan timbunan limestone ini sempat menimbulkan isu lingkungan, namun penegasan bahwa sifat batuan yang bersahabat dengan biota laut, serta adanya pengerukan kembali batuan kapur setelah pembangunan jalan tol selesai, telah menjelaskan kepada pemangku kepentingan bahwa pembangunan jalan tol ini dilaksanakan secara ramah lingkungan dan tidak mengganggu habitat awal.
Metode kerja tersebut juga menegaskan kembali bahwa seluruh pembangunan jalan tol yang dikerjakan oleh Jasa Marga maupun anak perusahaan selalu berorientasi kepada lingkungan sosial, ekonomi, maupun pelestarian lingkungan hidup.

Sumber: jasamarga.com

Minggu, 08 Juni 2014

Sebentar Lagi, Teknologi 3D Bisa Cetak Struktur Konstruksi

Sebuah tim yang dipimpin oleh Arup telah mengembangkan metode untuk mendesain dan mencetak sendi besi.
Sebuah tim yang dipimpin Arup telah mengembangkan metode untuk mendesain dan mencetak secara tiga dimensi sendi besi untuk keperluan konstruksi. Sendi semacam ini, bisa menekan waktu dan biaya konstruksi dalam membuat simpul kompleks struktur tarik.
Penelitian ini diperkirakan mampu memberikan arah baru bagi penggunaan teknologi cetak tiga dimensi. Pasalnya, hasil penelitian mereka bisa digunakan dalam bidang konstruksi. Selain mampu mencetak komponen dengan bentuk yang elegan, inovasi ini pun bisa menekan biaya dan mengurangi limbah serta jejak karbon di bidang konstruksi.
"Dengan menggunakan manufaktur aditif, kita bisa menciptakan banyak komponen kompleks secara individual dengan jauh lebih efisien. Ini memiliki implikasi yang besar untuk mengurangi biaya dan mengurangi limbah. Namun, yang paling penting, pendekatan ini berpotensi menghasilkan desain sangat canggih tanpa perlu menyederhanakan desain dalam tahap selanjutnya untuk menekan biaya," ujar ketua tim Arup, Salomé Galjaard.
Memang, sejauh ini, metode manufaktur tradisional masih lebih murah. Namun, Arup sudah memprediksi bahwa hal tersebut akan berubah sebentar lagi. Arup pun tidak sendiri. Berbagai pihak sudah turut serta mengembangkan teknologi ini. Mereka adalah perusahaan pembuat piranti lunak desain teknik dan konsultan WithinLab, rekananan Manufaktur Aditif CRDM/3D Systems, dan EOS.


Sabtu, 24 Mei 2014

Bertenaga Surya... Inilah Jalan Raya Paling "Cerdas" di Dunia!

"jalan raya cerdas" yang mampu secara langsung memasukkan energi ke dalam pembangkit.
Pada 2012 lalu Designboomtelah memaparkan tahap pertama prototipe jalan bertenaga surya atau "jalan raya cerdas" rancangan insinyur listrik Amerika Serikat, Scott Brusaw. Proyek ini dipahami sebagai sebuah inisiatif untuk mengubah wajah jalan raya nasional dengan sebuah pemaknaan baru, yaitu memperkenalkan "jalan raya cerdas" yang mampu secara langsung memasukkan energi ke dalam pembangkit. 

Ini memang salah satu ide mutakhir memanfaatkan energi surya di bumi. Jika direalisasikan, konsep dasarnya bisa menggerakkan seluruh kebutuhan negara dan rakyatnya dengan "listrik gratis" yang dihasilkan dari "jalan raya cerdas" itu. Untuk mempelajari lebih lanjut, proyek Smart Streets and Solar Roadways itu bisa dilihat di sini.  

Saat ini, tahap kedua prototipe "jalan raya cerdas" itu telah dikembangkan lebih lanjut sebagai modul photovoltaic (PV). PV adalah sistem yang dapat menahan berat truk paving hingga 120.000 kilogram. Rencananya, jalan raya bertenaga surya ini dipasang di jalan raya, tempat parkir, jalan masuk, trotoar, jalur sepeda, serta kawasan taman bermain keluarga. Kendaraan listrik akan mampu mengisi energi dari tempat parkir dan jalan masuk. Bahkan, teknologi induksi mutualnya akan memungkinkan untuk pengisian bahan bakar saat pemilik kendaraan tengah mengemudi.Kenapa bisa begitu? Sistem ini didasarkan pada pembangkit listrik terpusat, dan distribusinya ditangani langsung melalui jalur transmisi dan pusat secara estafet. Setiap panel akan memiliki mikroprosesor sendiri yang dapat berkomunikasi secara nirkabel dengan panel di sekitarnya. Nantinya, pusat-pusat panel tersebut akan memantau satu sama lain untuk mengecek terjadinya kerusakan atau masalah. 

Senin, 19 Mei 2014

Lima Proyek Paling "Gila" di Negeri Teluk

Vertical Farms
Ada saja upaya untuk memegang tampuk hegemoni dunia. Setelah Burj Khalifa yang rekornya sebagai pencakar langit terjangkung hingga kini belum dipecahkan, negeri-negeri jazirah Arab sudah merencanakan untuk membangun megaproyek istimewa, untuk tidak dikatakan "gila".

Bukan sembarang proyek "gila", melainkan luar biasa dan mengundang keingintahuan publik. Bahkan, beberapa di antaranya mengadopsi gagasan para pesohor (selebriti) dunia, macam artis peran seksi Pamela Anderson.

Proyek tersebut adalah Vertical Farms, International Chess City, Smurf City, Pamela Anderson Eco Resort, dan Rotating Tower. Meski sebagian besar belum terealisasi, karena terganjal krisis 2008, namun bisa menjadi pembelajaran bagi para arsitek, pengembang, dan juga pemegang otoritas pemerintahan. Berikut detailnya:

Vertical Farms

Proyek ini dirancang sebagai peternakan vertikal pada pencakar langit di Dubai, Uni Emirat Arab. Vertical farms ini akan berfungsi seperti rumah kaca. Air laut digunakan untuk menyiram tanaman sekaligus mendinginkan gedung.

Proposal Vertical Farms sejatinya telah ada pada 2009 silam. Pembicaraan konstan mengenai ketahanan pangan di kawasan Teluk yang kembali dilakukan, membuka kesempatan bagi proyek ini untuk direalisasikan.
International Chess City

Kota catur skala internasional ini didesain menampung sebanyak 32 gedung agar terlihat seperti potongan berbeda dari papan catur.

Bangunan tertinggi dinamakan The King Tower, seluas 64.000 meter persegi 
dengan tinggi64 lantai. Selain itu, terdapat juga apartemen dan hotel berbintang dengan klasifikasi bintang tiga hingga tujuh. 
Smurf City
 
Pembangunan taman yang berada di Bahrain ini diperkirakan menelan dana sekitar 5 juta dollar AS atau setara Rp 56,6 miliar. Inspirasi taman ini berdasarkan karakter kartun anak-anak populer di Belgia, yakni "smurf". 

Smurf City berada di area seluas 8.350 meter persegi di West Riffa, dan merupakan bagian dari Pangeran Khalifa bin Salman Grand Garden.

Uniknya, di dalam taman ini akan terdapat 30 rumah Smurf dengan ukuran 50 meter persegi, rumah Papa Smurf seluas 250 meter persegi dan kastil seluas 220 meter persegi yang akan menjadi rumah bagi Smurf Nemesis Gargamel. Rumah-rumah tersebut dilengkapi dengan kafe, akuarium, dan toko suvenir. 
Pamela Anderson Eco-resort 

Pamela Anderson, artis peran serial televisi "Baywatch", sempat menunjukkan ketertarikannya di sektor perhotelan dengan merencanakan pembangunan fasilitas akomodasi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Agustus 2008 silam.
"Aku sedang membangun sebuah hotel di sana. Ini adalah hotel ramah lingkungan. Aku pergi ke sana dengan membentuk Wish Foundation dan bertemu dengan beberapa orang besar di sanaKeluarga kerajaan benar-benar ramah,kata Anderson saat itu.

Dia juga menjelaskan, eco-resort 
dibangun tanpa bahan bakar fosil sama sekali. Padahal Abu Dhabi, gudang minyak fosil. Namun, rencana Anderson batal seiring resesi ekonomi di Amerika Serikat.
Rotating Tower 

Menara berputar (rotating tower) di Dubai ini diberi nama Dynamic Tower. Ketinggiannya mencapai 80 lantai dengan rancangan berputar hingga 360 derajat setiap 90 menit.
Ide ini muncul satu dekade silam, namun desainnya baru dirilis tahun lalu. Sayangnya, karena alasan substansial, Dynamic Tower hanya sebatas gambar di atas kertas. Jika dibangun, menara ini akan menghabiskan dana sekitar 541 juta dollar AS (Rp 6,1 triliun). 

Sumber :
www.constructionweekonline.com
www.kompas.com

Minggu, 04 Mei 2014

Crane

TOWER CRANE

Tower crane sangat cocok dipakai untuk pelayanan bangunan tingkat tinggi (high rise building) untuk melayani daerah yang cukup luas. Pada proyek ini tower crane (TC) menjadi sentral atau alat yang paling utama karena dalam proyek gedung bertingkat tinggi transportasi vertikal maupun horisontal yang memegang peranan penting dan menentukan terutama soal kecepatan kerja. Tower crane digunakan untuk mengangkut concrete bucket untuk pengecoran kolom pada lokasi yang tinggi serta mengangkut peralatan bantu dan bahan-bahan  untuk pekerjaan struktur, seperti air compressor, bekisting kolom, flying table form, besi beton, serta alat dan bahan lain. Seluruh operasional proyek sangat dipengaruhi oleh berfungsinya tower crane, disebabkan peranannya yang dominan untuk kelancaran jalannya pembangunan proyek.
Prinsip kerja tower crane berdasarkan kekuatan mesin (genset), keseimbangan beban, momen dan tegangan tarik kabel, serta sifatnya dapat berputar 360 derajat. Tower crane mampu menjangkau tempat yang jauh, mempunyai kapasitas angkut yang besar, dan dapat diatur mengikuti ketinggian bangunan.
Tower crane harus ditempatkan sebaik mungkin agar dapat menjangkau seluruh wilayah proyek dengan menggunakan panjang lengan (jib length) yang sependek mungkin tanpa harus melakukan pekerjaan bongkar pasang tower crane. Semakin jauh radius jib, maka kemampuan angkat menurun.
Jenis tower crane yang dipakai pada Proyek ‘tempat penulis kerja praktek’ adalah static base crane, yaitu tower crane berdiri secara tetap pada pondasi, dan untuk menambah kekakuannya dapat diangkurkan ke struktur gedung yang telah selesai dibangun.

Bagian – bagian dari tower crane
  Gambar 1.1 bagian – bagian tower crane

Untuk keperluan operasional, ketinggian tower crane minimal harus lebih tinggi 4-6 meter dari ketinggian maksimum pekerjaan yang dilayani.
Tower crane mempunyai bagian-bagian seperti:
a. Jib, merupakan bagian dari tower crane yang panjang dan bisa berputar secara horisontal sebesar 360 ° atau sering disebut lengan tower crane yang berfungsi untuk mengangkat material atau alat bantu pada proyek dengan bantuan kabel baja (sling).
b. Counter weight, berupa beton pemberat yang terdapat pada bagian belakang tower crane yang berfungsi untuk memberikan keseimbangan pada tower crane.
c. Mast section, adalah bagian dari tower crane yang menentukan tinggi dari tower crane, dimana pemasangan tiap-tiap mast section dibantu dengan alat hidrolik untuk menyusun mast section tersebut ke arah vertikal.
d. Joint pin, adalah bagian dari tower crane yang merupakan tempat operator mengoperasikan tower crane.
e. Sabuk pengaman (collar frame atau anchorages frame). Setelah ketinggian tower crane melampaui batas free standing yang diijinkan oleh pabrik pembuat, tower crane harus dipasang sabuk pengaman (tie beam) yang diikatkan pada bangunan (kolom). Dalam pemasangannya, harus diperhatikan kekuatan bracing agar konstruksi stabil menerima beban tarik dan tekan.

Jenis - Jenis Crane.

Crane merupakan salah satu pesawat pengangkat dan pemindah material yang banyak di gunakan.
Crane juga merupakan mesin alat berat (heavy equitment) yang memilki bentuk dan kemampuan
angkat yang besar dan mampu berputar hingga 360 derajat dan jangkauan hingga puluhan meter.
Crane biasanya digunakan dalam pekerjaan pekerjaan  proyek, pelabuhan, perbengkelan, industri,
pergudangan dll.

Crane biasanya terdiri atas beberapa jenis crane diantaranya ialah :

1. Tower Crane





















































Tower crane merupakan pesawat pengangkat material/mesin yang biasa digunakan pada proyek
    kontruksi. Tower crane terdiri dari beberapa bagian yang dapat dibongkar pasang ketika digunakan
    sehingga mudah untuk dibawa kemana saja.

    Tower crane biasanya diangkut secara terpisah  menggunakan kendaraan (trailer) ke tempat proyek
    kemudian dipasang kembali di tempat proyek. Dan pemasangan tower crane termasuk cukup lama
    karena banyak bagian-bagian yang harus dipasang termasuk pembuatan pondasi tower crane.


2. Mobile Crane (Truck Crane)



































Mobile Crane (Truck Crane) adalah crane yang terdapat langsung pada mobile (Truck) sehingga
   dapat dibawa langsung pada pada lokasi kerja tampa harus menggunakan kendaraan (trailer)
   Crane ini memiliki kaki (pondasi/tiang) yang dapat dipasangkan ketika beroperasi, ini dimaksukkan
   agar ketika beroperasi crane menjadi seimbang.


3. Crawler Crane



























4. Hidraulik Crane
























    Umumnya semua jenis crane menggunkan sistem hidraulik (minyak) dan pheneumatik (udara)
    untuk dapat bekerja. Namun secara khusus Hidraulik crane adalah crane yang biasa digunakan
    pada perbengkelan dan pergudangan dll, yang memilki struktur sederhana.
    Crane ini biasanya diletakkan pada suatu titik dan tidak untuk dipindah-pindah dan dengan
    jangkauan tidak terlalu panjang serta putaran yang hanya 180 derajat. Sehingga biasanya pada
    suatu perbengkelan/pergudangan terdapat lebih dari satu Crane.


5. Hoist Crane
Hoist Crane adalah pesawat pengangkat yang biasanya terdapat pada pergudangan dan
    perbengkelan. Hoist Crane ditempatkan pada langit-langit dan berjalan diatas rel khusus
    yang yang dipasangi pada langit-langit tersebut. Rel-rel tadi juga dapat bergerak secara
    maju-mundur pada satu arah.


6. Jip 
Jip crane adalah pesawat pengangkat yang terdiri dari berbagai ukuran, jip crane yang kecil
   biasanya digunakan pada perbengkelan dan pergudangan untuk memindahkan barang-barang
   yang relatif berat. Jip crane memilki sistem kerja dan mesin yang mirip seperti 'Hoist Crane'
   dan struktur yang mirip 'Hidraulik Crane'.


Sabtu, 19 April 2014

Equipping a construction helmet with a sensor can detect the onset of carbon monoxide poisoning

Jason B. Forsyth is placing a wearable computer system for carbon monoxide detection on a helmet.


Researchers have urged the use of a wearable computing system installed in a helmet to protect construction workers from carbon monoxide poisoning, a serious lethal threat in this industry.

This award will be presented at the August 17-21, 2013 Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) Conference on Automation Science and Engineering .

Carbon monoxide poisoning is a significant problem for construction workers in both residential and industrial settings. The danger exists because the exhaust from gasoline-powered hand tools can quickly build up in enclosed spaces and easily overcome the tool's users and nearby co-workers.

In the paper, the researchers explained how they integrated a pulse oximetry sensor into a typical construction helmet to allow continuous and noninvasive monitoring of workers' blood gas saturation levels. The results of their study showed that a user of this helmet would be warned of impending carbon monoxide poisoning with a probability of greater than 99 percent.

The award-winning research and resulting paper was written by Jason B. Forsyth of Durham, N.C., and a Ph.D. candidate in computer engineering, his adviser Thomas L. Martin, professor of electrical and computer engineering, Deborah Young-Corbett, assistant professor of civil and environmental engineering and a member of the Myers-Lawson School of Construction, and Ed Dorsa, associate professor of industrial design.

Ten Virginia Tech students participated in the study conducted on the university campus. They mimicked simple tasks of construction workers.

To show the feasibility of monitoring for carbon monoxide poisoning without subjecting the users to dangerous conditions, the researchers used a prototype for monitoring the blood oxygen saturation. The difference for monitoring for oxygen and for carbon monoxide differs only in the number of wavelengths of light employed, so if this monitoring proved feasible, then the monitoring for carbon monoxide would be feasible as well.

They selected a helmet for the installation of a wearable computer because they needed a design that could be worn year round which ruled out seasonal clothing such as overalls or coats. They also wanted a design that was socially acceptable, and one that struck a balance between comfort, usability, and feasibility.

"This helmet is only a first step toward our long-term vision of having a network of wearable and environmental sensors and intelligent personal protective gear on construction sites that will improve safety for workers," according to their report. "While this helmet targets carbon monoxide poisoning, we believe there are compelling opportunities for wearable computing in reducing injuries due to falls, electrocution, and particulate inhalation, as well as workers on foot being struck by vehicles."

Martin is a past recipient of both the Presidential Early Career Award for Scientists and Engineers and the National Science Foundation CAREER Award, both furthering his research in the design of electronic textiles and "smart" clothes.

Young-Corbett is working in a new field of engineering known as Prevention through Design or PtD. This optimal method of preventing occupational illnesses, injuries, and fatalities is to "design out" the hazards and risks; thereby, eliminating the need to control them during work operations. She is also the associate director of the Center for Innovation in Construction Safety and Health Research of the Institute of Critical Technology and Applied Science at Virginia Tech.

Dorsa has a National Science Foundation funded studio in interdisciplinary product development, working with faculty from the College of Engineering and the College of Business' Department of Marketing. In 2005, Design Intelligence chose him as one of the 40 most admired industrial design faculty in the U.S. 

Referensi: http://www.sciencedaily.com/releases/2013/08/130817205511.htm 

At long last: Concrete that's nearly maintenance-free

Engineering students put another layer of the concrete composite over the sensors. Students were patching a large crack in the driveway of a UWM parking lot with the product from funded research in Sobolev's lab.

To Scott Muzenski, the large crack that weather and wear had caused in the driveway of a parking structure at the University of Wisconsin-Milwaukee (UWM) presented an opportunity to test his research.

Muzenski, a civil engineering graduate student, had been working on a new kind of high-performance concrete created in the lab of associate professor Konstantin Sobolev. Their cement composite is a durable, water-resistant and malleable paving material with such a high level of "crack control" that the researchers estimate it has a service life of 120 years or more.

To compare, the average life span of concrete roads in Wisconsin falls in the 40-50-year range, with up to 10 percent of reinforced bridge decks needing replacement after 30 years.

In August, a crew of 25 students joined Muzenski in patching the driveway using the unique material. Then, in order to track whether the material was indeed holding up better than ordinary concrete, they gave the 4-by-15-foot slab the ability to monitor its own performance.

About an inch below the surface, the students embedded electrodes in this 'smart' concrete that are linked to a data acquisition system located behind an adjacent retaining wall. "This is going to tell us whether water is getting into the material and how deep it goes," says Muzenski. "It also detects the presence of chloride ions within the material, and senses load and stress as vehicles pass over it."

Later this year when the software is completed, the real-time data will be fed wirelessly to an online repository.

We'll be able to observe the performance of concrete as it happens, in real time" says Sobolev.

The slab project will confirm two important features of this hybrid concrete, called a Superhydrophobic Engineered Cementitious Composite (SECC): its superior durability and its "smart" capability.

The science of cracks

The researchers point to two reasons they believe their SECC is a superior material. First, it contains compounds that make the material nearly waterproof.

As Sobolev squeezes an eyedropper of water over a small piece of the hybrid concrete, the liquid beads up on contact into almost perfect spheres that rush off the hard surface at the smallest tilt.

Normally, water pools on the surface of pavement and permeates through cracks. Add freezing and thawing cycles, and it's no wonder that roadways are in need of frequent repair, says Sobolev.

Additives in the hybrid change the concrete on a molecular level when the pavement hardens, creating a spiky surface that, although microscopic, causes the water to bead and roll off.

The second innovation of this SECC allows the material to bend without breaking. Although some examples of a malleable concrete are currently commercially available, Sobolev's lab has improved ductility with their composite. Super-strong unwoven polyvinyl alcohol fibers, each the width of a human hair, are mixed into and bond with the concrete. When cracks begin, the fibers keep them from becoming larger tears.

In fact, the aim of Sobolev's material is not to minimize cracking. Instead, it's designed to allow multiple micro-cracking, which distributes the load across many tiny cracks that are too small to let water penetrate.

Conventional reinforced concrete, in contrast, is relatively brittle, and cracks get progressively worse with the constant loading. When that happens, the entire stress is transferred to the reinforcing steel that bridges the crack.

"Our architecture allows the material to withstand four times the compression with 200 times the ductility of traditional concrete," says Sobolev.

A targeted use

Since ductile concrete is more expensive than regular concrete, he sees its best application in specific places where deterioration begins, such as on bridge approach decks. That's where concrete that is heavily reinforced meets regular asphalt. The joint, says Sobolev, cannot withstand the continuous loading.

"The bridge and the road aren't designed to work together," he says. "You need something between them that has the durability to handle the stress."

He adds that the cost of his SECC is drastically offset by the reduction in labor costs for maintenance and early repairs.

The current construction on Milwaukee's Hoan Bridge, for example, includes replacement of just such a bridge deck that will cost millions to make the bridge safe for another 50 years.

In addition to his high-performance concrete, Sobolev also sees a promising future for "smart" concrete, with uses beyond transportation. Remote monitoring at facilities such as nuclear power plants allows problems to be detected while limiting the risk of harm to employees.

Referensi: http://www.sciencedaily.com/releases/2014/04/140409134323.htm

Seminar Series IMS FTUI 1





Kemajuan zaman dan teknologi yang sangat pesat saat ini memicu kompleksitas berbagai hal, salah satunya di bidang konstruksi. Rintangan dan batasan yang dihadapi para Sarjana Teknik Sipil semakin bervariasi seiring dengan berkembangnya pula bermacam kebutuhan masyarakat.

               
Maka dari itu kebutuhan akan suatu metode atau sistem yang dapat menggabungkan dan mengorganisasi berbagai batasan seperti cost, time, scope, integration, resource, risk, procurement, quality, communication, dan stakeholders (PMBOK yang terbaru) untuk mencapai kualitas yang optimal sesuai yang kita inginkan di bidang kontruksi. Ilmu yang mempelajari sistem proyek ini yang telah ada yaitu Project Management. Ilmu ini merupakan tools yang memungkinkan tim proyek untuk mengorganisasi pekerjaan mereka sesuai constraints yang ada. Cara-cara dan teknik dalam manajemen proyek ini terangkum menjadi suatu sistem proyek yang menjadi standar acuan para pelaku proyek.

               
 Dalam suatu manajemen proyek, terdapat berbagai macam proses yaitu initiating, planning, executing, controlling, dan closing yang semuanya saling berkaitan sehingga harus dilakukan secara optimal dan menyeluruh agar tercapai kesuksesan dalam proyek. Namun dewasa ini, banyak sekali terjadi kegagalan dalam proyek di Indonesia yang tentunya menyebabkan kerugian yang cukup besar baik dari segi materi maupun moral. Kasus yang biasa terjadi misalnya kegagalan dalam controlling suatu proyek. Banyak pihak yang berhasil melaksanakan konstruksi, namun beberapa diantaranya mengabaikan maintenance dan post construction sehingga menyebabkan kegagalan bangunan dalam jangka waktu yang pendek misalnya bangunan menjadi retak bahkan runtuh. Hal lain yang sering diabaikan adalah standar-standar yang terdapat pada PMBOK. Dalam statistik yang didapat, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai tingkat kecelakaan kerja konstruksi paling tinggi di Asia yaitu 20 orang cidera fatal setiap 100.000 tenaga kerja. Selain itu, hal ini juga menimbulkan kerugian rata-rata per tahun sebesar Rp 280 trilliun. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil.

               
 Dengan adanya berbagai kasus tersebut dapat memperburuk pandangan berbagai stakeholders yang berkepentingan di Indonesia akan kualitas konstruksi di Indonesia sehingga akan menurunkan kepercayaan pihak luar tersebut untuk memberikan suatu proyek untuk dikendalikan oleh Sarjana Teknik Sipil dari Indonesia. Akibat lebih jauhnya, kemampuan bersaing pelaku konstruksi di Indonesia akan semakin lemah di masa depan.

Berangkat dari kondisi konstruksi di Indonesia dan semakin tingginya kebutuhan akan pengetahuan manajemen proyek di zaman ini dan tingkat persaingan SDM dengan pihak asing yang semakin ketat, perlu  diadakan pencerdasan kepada generasi masa depan, yaitu para mahasiswa, akan pentingnya manajemen dalam suatu proyek.