#footer-column-divide { clear:both;background: #3B5998;color:#ffcc66; } .footer-column { padding: 10px; }

UNIVERSITAS INDONESIA

Veritas, Probitas, Justisia

IMS FTUI 2014

Integratif dan Kontributif

Civil Engineering

Proud To Be Civil Engineer

CENS UI 2013

Contribute to our country

OIM FTUI 2014

Ayo sipil pasti bisa rebut juara !!! #SemangatBerprestasi

Senin, 19 Mei 2014

Lima Proyek Paling "Gila" di Negeri Teluk

Vertical Farms
Ada saja upaya untuk memegang tampuk hegemoni dunia. Setelah Burj Khalifa yang rekornya sebagai pencakar langit terjangkung hingga kini belum dipecahkan, negeri-negeri jazirah Arab sudah merencanakan untuk membangun megaproyek istimewa, untuk tidak dikatakan "gila".

Bukan sembarang proyek "gila", melainkan luar biasa dan mengundang keingintahuan publik. Bahkan, beberapa di antaranya mengadopsi gagasan para pesohor (selebriti) dunia, macam artis peran seksi Pamela Anderson.

Proyek tersebut adalah Vertical Farms, International Chess City, Smurf City, Pamela Anderson Eco Resort, dan Rotating Tower. Meski sebagian besar belum terealisasi, karena terganjal krisis 2008, namun bisa menjadi pembelajaran bagi para arsitek, pengembang, dan juga pemegang otoritas pemerintahan. Berikut detailnya:

Vertical Farms

Proyek ini dirancang sebagai peternakan vertikal pada pencakar langit di Dubai, Uni Emirat Arab. Vertical farms ini akan berfungsi seperti rumah kaca. Air laut digunakan untuk menyiram tanaman sekaligus mendinginkan gedung.

Proposal Vertical Farms sejatinya telah ada pada 2009 silam. Pembicaraan konstan mengenai ketahanan pangan di kawasan Teluk yang kembali dilakukan, membuka kesempatan bagi proyek ini untuk direalisasikan.
International Chess City

Kota catur skala internasional ini didesain menampung sebanyak 32 gedung agar terlihat seperti potongan berbeda dari papan catur.

Bangunan tertinggi dinamakan The King Tower, seluas 64.000 meter persegi 
dengan tinggi64 lantai. Selain itu, terdapat juga apartemen dan hotel berbintang dengan klasifikasi bintang tiga hingga tujuh. 
Smurf City
 
Pembangunan taman yang berada di Bahrain ini diperkirakan menelan dana sekitar 5 juta dollar AS atau setara Rp 56,6 miliar. Inspirasi taman ini berdasarkan karakter kartun anak-anak populer di Belgia, yakni "smurf". 

Smurf City berada di area seluas 8.350 meter persegi di West Riffa, dan merupakan bagian dari Pangeran Khalifa bin Salman Grand Garden.

Uniknya, di dalam taman ini akan terdapat 30 rumah Smurf dengan ukuran 50 meter persegi, rumah Papa Smurf seluas 250 meter persegi dan kastil seluas 220 meter persegi yang akan menjadi rumah bagi Smurf Nemesis Gargamel. Rumah-rumah tersebut dilengkapi dengan kafe, akuarium, dan toko suvenir. 
Pamela Anderson Eco-resort 

Pamela Anderson, artis peran serial televisi "Baywatch", sempat menunjukkan ketertarikannya di sektor perhotelan dengan merencanakan pembangunan fasilitas akomodasi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Agustus 2008 silam.
"Aku sedang membangun sebuah hotel di sana. Ini adalah hotel ramah lingkungan. Aku pergi ke sana dengan membentuk Wish Foundation dan bertemu dengan beberapa orang besar di sana. Keluarga kerajaan benar-benar ramah," kata Anderson saat itu.

Dia juga menjelaskan, eco-resort 
dibangun tanpa bahan bakar fosil sama sekali. Padahal Abu Dhabi, gudang minyak fosil. Namun, rencana Anderson batal seiring resesi ekonomi di Amerika Serikat.
Rotating Tower 

Menara berputar (rotating tower) di Dubai ini diberi nama Dynamic Tower. Ketinggiannya mencapai 80 lantai dengan rancangan berputar hingga 360 derajat setiap 90 menit.
Ide ini muncul satu dekade silam, namun desainnya baru dirilis tahun lalu. Sayangnya, karena alasan substansial, Dynamic Tower hanya sebatas gambar di atas kertas. Jika dibangun, menara ini akan menghabiskan dana sekitar 541 juta dollar AS (Rp 6,1 triliun). 

Sumber :
www.constructionweekonline.com
www.kompas.com

Minggu, 04 Mei 2014

Crane

TOWER CRANE

Tower crane sangat cocok dipakai untuk pelayanan bangunan tingkat tinggi (high rise building) untuk melayani daerah yang cukup luas. Pada proyek ini tower crane (TC) menjadi sentral atau alat yang paling utama karena dalam proyek gedung bertingkat tinggi transportasi vertikal maupun horisontal yang memegang peranan penting dan menentukan terutama soal kecepatan kerja. Tower crane digunakan untuk mengangkut concrete bucket untuk pengecoran kolom pada lokasi yang tinggi serta mengangkut peralatan bantu dan bahan-bahan  untuk pekerjaan struktur, seperti air compressor, bekisting kolom, flying table form, besi beton, serta alat dan bahan lain. Seluruh operasional proyek sangat dipengaruhi oleh berfungsinya tower crane, disebabkan peranannya yang dominan untuk kelancaran jalannya pembangunan proyek.
Prinsip kerja tower crane berdasarkan kekuatan mesin (genset), keseimbangan beban, momen dan tegangan tarik kabel, serta sifatnya dapat berputar 360 derajat. Tower crane mampu menjangkau tempat yang jauh, mempunyai kapasitas angkut yang besar, dan dapat diatur mengikuti ketinggian bangunan.
Tower crane harus ditempatkan sebaik mungkin agar dapat menjangkau seluruh wilayah proyek dengan menggunakan panjang lengan (jib length) yang sependek mungkin tanpa harus melakukan pekerjaan bongkar pasang tower crane. Semakin jauh radius jib, maka kemampuan angkat menurun.
Jenis tower crane yang dipakai pada Proyek ‘tempat penulis kerja praktek’ adalah static base crane, yaitu tower crane berdiri secara tetap pada pondasi, dan untuk menambah kekakuannya dapat diangkurkan ke struktur gedung yang telah selesai dibangun.

Bagian – bagian dari tower crane
  Gambar 1.1 bagian – bagian tower crane

Untuk keperluan operasional, ketinggian tower crane minimal harus lebih tinggi 4-6 meter dari ketinggian maksimum pekerjaan yang dilayani.
Tower crane mempunyai bagian-bagian seperti:
a. Jib, merupakan bagian dari tower crane yang panjang dan bisa berputar secara horisontal sebesar 360 ° atau sering disebut lengan tower crane yang berfungsi untuk mengangkat material atau alat bantu pada proyek dengan bantuan kabel baja (sling).
b. Counter weight, berupa beton pemberat yang terdapat pada bagian belakang tower crane yang berfungsi untuk memberikan keseimbangan pada tower crane.
c. Mast section, adalah bagian dari tower crane yang menentukan tinggi dari tower crane, dimana pemasangan tiap-tiap mast section dibantu dengan alat hidrolik untuk menyusun mast section tersebut ke arah vertikal.
d. Joint pin, adalah bagian dari tower crane yang merupakan tempat operator mengoperasikan tower crane.
e. Sabuk pengaman (collar frame atau anchorages frame). Setelah ketinggian tower crane melampaui batas free standing yang diijinkan oleh pabrik pembuat, tower crane harus dipasang sabuk pengaman (tie beam) yang diikatkan pada bangunan (kolom). Dalam pemasangannya, harus diperhatikan kekuatan bracing agar konstruksi stabil menerima beban tarik dan tekan.

Jenis - Jenis Crane.

Crane merupakan salah satu pesawat pengangkat dan pemindah material yang banyak di gunakan.
Crane juga merupakan mesin alat berat (heavy equitment) yang memilki bentuk dan kemampuan
angkat yang besar dan mampu berputar hingga 360 derajat dan jangkauan hingga puluhan meter.
Crane biasanya digunakan dalam pekerjaan pekerjaan  proyek, pelabuhan, perbengkelan, industri,
pergudangan dll.

Crane biasanya terdiri atas beberapa jenis crane diantaranya ialah :

1. Tower Crane





















































Tower crane merupakan pesawat pengangkat material/mesin yang biasa digunakan pada proyek
    kontruksi. Tower crane terdiri dari beberapa bagian yang dapat dibongkar pasang ketika digunakan
    sehingga mudah untuk dibawa kemana saja.

    Tower crane biasanya diangkut secara terpisah  menggunakan kendaraan (trailer) ke tempat proyek
    kemudian dipasang kembali di tempat proyek. Dan pemasangan tower crane termasuk cukup lama
    karena banyak bagian-bagian yang harus dipasang termasuk pembuatan pondasi tower crane.


2. Mobile Crane (Truck Crane)



































Mobile Crane (Truck Crane) adalah crane yang terdapat langsung pada mobile (Truck) sehingga
   dapat dibawa langsung pada pada lokasi kerja tampa harus menggunakan kendaraan (trailer)
   Crane ini memiliki kaki (pondasi/tiang) yang dapat dipasangkan ketika beroperasi, ini dimaksukkan
   agar ketika beroperasi crane menjadi seimbang.


3. Crawler Crane



























4. Hidraulik Crane
























    Umumnya semua jenis crane menggunkan sistem hidraulik (minyak) dan pheneumatik (udara)
    untuk dapat bekerja. Namun secara khusus Hidraulik crane adalah crane yang biasa digunakan
    pada perbengkelan dan pergudangan dll, yang memilki struktur sederhana.
    Crane ini biasanya diletakkan pada suatu titik dan tidak untuk dipindah-pindah dan dengan
    jangkauan tidak terlalu panjang serta putaran yang hanya 180 derajat. Sehingga biasanya pada
    suatu perbengkelan/pergudangan terdapat lebih dari satu Crane.


5. Hoist Crane
Hoist Crane adalah pesawat pengangkat yang biasanya terdapat pada pergudangan dan
    perbengkelan. Hoist Crane ditempatkan pada langit-langit dan berjalan diatas rel khusus
    yang yang dipasangi pada langit-langit tersebut. Rel-rel tadi juga dapat bergerak secara
    maju-mundur pada satu arah.


6. Jip 
Jip crane adalah pesawat pengangkat yang terdiri dari berbagai ukuran, jip crane yang kecil
   biasanya digunakan pada perbengkelan dan pergudangan untuk memindahkan barang-barang
   yang relatif berat. Jip crane memilki sistem kerja dan mesin yang mirip seperti 'Hoist Crane'
   dan struktur yang mirip 'Hidraulik Crane'.


Sabtu, 19 April 2014

Equipping a construction helmet with a sensor can detect the onset of carbon monoxide poisoning

Jason B. Forsyth is placing a wearable computer system for carbon monoxide detection on a helmet.


Researchers have urged the use of a wearable computing system installed in a helmet to protect construction workers from carbon monoxide poisoning, a serious lethal threat in this industry.

This award will be presented at the August 17-21, 2013 Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) Conference on Automation Science and Engineering .

Carbon monoxide poisoning is a significant problem for construction workers in both residential and industrial settings. The danger exists because the exhaust from gasoline-powered hand tools can quickly build up in enclosed spaces and easily overcome the tool's users and nearby co-workers.

In the paper, the researchers explained how they integrated a pulse oximetry sensor into a typical construction helmet to allow continuous and noninvasive monitoring of workers' blood gas saturation levels. The results of their study showed that a user of this helmet would be warned of impending carbon monoxide poisoning with a probability of greater than 99 percent.

The award-winning research and resulting paper was written by Jason B. Forsyth of Durham, N.C., and a Ph.D. candidate in computer engineering, his adviser Thomas L. Martin, professor of electrical and computer engineering, Deborah Young-Corbett, assistant professor of civil and environmental engineering and a member of the Myers-Lawson School of Construction, and Ed Dorsa, associate professor of industrial design.

Ten Virginia Tech students participated in the study conducted on the university campus. They mimicked simple tasks of construction workers.

To show the feasibility of monitoring for carbon monoxide poisoning without subjecting the users to dangerous conditions, the researchers used a prototype for monitoring the blood oxygen saturation. The difference for monitoring for oxygen and for carbon monoxide differs only in the number of wavelengths of light employed, so if this monitoring proved feasible, then the monitoring for carbon monoxide would be feasible as well.

They selected a helmet for the installation of a wearable computer because they needed a design that could be worn year round which ruled out seasonal clothing such as overalls or coats. They also wanted a design that was socially acceptable, and one that struck a balance between comfort, usability, and feasibility.

"This helmet is only a first step toward our long-term vision of having a network of wearable and environmental sensors and intelligent personal protective gear on construction sites that will improve safety for workers," according to their report. "While this helmet targets carbon monoxide poisoning, we believe there are compelling opportunities for wearable computing in reducing injuries due to falls, electrocution, and particulate inhalation, as well as workers on foot being struck by vehicles."

Martin is a past recipient of both the Presidential Early Career Award for Scientists and Engineers and the National Science Foundation CAREER Award, both furthering his research in the design of electronic textiles and "smart" clothes.

Young-Corbett is working in a new field of engineering known as Prevention through Design or PtD. This optimal method of preventing occupational illnesses, injuries, and fatalities is to "design out" the hazards and risks; thereby, eliminating the need to control them during work operations. She is also the associate director of the Center for Innovation in Construction Safety and Health Research of the Institute of Critical Technology and Applied Science at Virginia Tech.

Dorsa has a National Science Foundation funded studio in interdisciplinary product development, working with faculty from the College of Engineering and the College of Business' Department of Marketing. In 2005, Design Intelligence chose him as one of the 40 most admired industrial design faculty in the U.S. 

Referensi: http://www.sciencedaily.com/releases/2013/08/130817205511.htm 

At long last: Concrete that's nearly maintenance-free

Engineering students put another layer of the concrete composite over the sensors. Students were patching a large crack in the driveway of a UWM parking lot with the product from funded research in Sobolev's lab.

To Scott Muzenski, the large crack that weather and wear had caused in the driveway of a parking structure at the University of Wisconsin-Milwaukee (UWM) presented an opportunity to test his research.

Muzenski, a civil engineering graduate student, had been working on a new kind of high-performance concrete created in the lab of associate professor Konstantin Sobolev. Their cement composite is a durable, water-resistant and malleable paving material with such a high level of "crack control" that the researchers estimate it has a service life of 120 years or more.

To compare, the average life span of concrete roads in Wisconsin falls in the 40-50-year range, with up to 10 percent of reinforced bridge decks needing replacement after 30 years.

In August, a crew of 25 students joined Muzenski in patching the driveway using the unique material. Then, in order to track whether the material was indeed holding up better than ordinary concrete, they gave the 4-by-15-foot slab the ability to monitor its own performance.

About an inch below the surface, the students embedded electrodes in this 'smart' concrete that are linked to a data acquisition system located behind an adjacent retaining wall. "This is going to tell us whether water is getting into the material and how deep it goes," says Muzenski. "It also detects the presence of chloride ions within the material, and senses load and stress as vehicles pass over it."

Later this year when the software is completed, the real-time data will be fed wirelessly to an online repository.

We'll be able to observe the performance of concrete as it happens, in real time" says Sobolev.

The slab project will confirm two important features of this hybrid concrete, called a Superhydrophobic Engineered Cementitious Composite (SECC): its superior durability and its "smart" capability.

The science of cracks

The researchers point to two reasons they believe their SECC is a superior material. First, it contains compounds that make the material nearly waterproof.

As Sobolev squeezes an eyedropper of water over a small piece of the hybrid concrete, the liquid beads up on contact into almost perfect spheres that rush off the hard surface at the smallest tilt.

Normally, water pools on the surface of pavement and permeates through cracks. Add freezing and thawing cycles, and it's no wonder that roadways are in need of frequent repair, says Sobolev.

Additives in the hybrid change the concrete on a molecular level when the pavement hardens, creating a spiky surface that, although microscopic, causes the water to bead and roll off.

The second innovation of this SECC allows the material to bend without breaking. Although some examples of a malleable concrete are currently commercially available, Sobolev's lab has improved ductility with their composite. Super-strong unwoven polyvinyl alcohol fibers, each the width of a human hair, are mixed into and bond with the concrete. When cracks begin, the fibers keep them from becoming larger tears.

In fact, the aim of Sobolev's material is not to minimize cracking. Instead, it's designed to allow multiple micro-cracking, which distributes the load across many tiny cracks that are too small to let water penetrate.

Conventional reinforced concrete, in contrast, is relatively brittle, and cracks get progressively worse with the constant loading. When that happens, the entire stress is transferred to the reinforcing steel that bridges the crack.

"Our architecture allows the material to withstand four times the compression with 200 times the ductility of traditional concrete," says Sobolev.

A targeted use

Since ductile concrete is more expensive than regular concrete, he sees its best application in specific places where deterioration begins, such as on bridge approach decks. That's where concrete that is heavily reinforced meets regular asphalt. The joint, says Sobolev, cannot withstand the continuous loading.

"The bridge and the road aren't designed to work together," he says. "You need something between them that has the durability to handle the stress."

He adds that the cost of his SECC is drastically offset by the reduction in labor costs for maintenance and early repairs.

The current construction on Milwaukee's Hoan Bridge, for example, includes replacement of just such a bridge deck that will cost millions to make the bridge safe for another 50 years.

In addition to his high-performance concrete, Sobolev also sees a promising future for "smart" concrete, with uses beyond transportation. Remote monitoring at facilities such as nuclear power plants allows problems to be detected while limiting the risk of harm to employees.

Referensi: http://www.sciencedaily.com/releases/2014/04/140409134323.htm

Seminar Series IMS FTUI 1





Kemajuan zaman dan teknologi yang sangat pesat saat ini memicu kompleksitas berbagai hal, salah satunya di bidang konstruksi. Rintangan dan batasan yang dihadapi para Sarjana Teknik Sipil semakin bervariasi seiring dengan berkembangnya pula bermacam kebutuhan masyarakat.

               
Maka dari itu kebutuhan akan suatu metode atau sistem yang dapat menggabungkan dan mengorganisasi berbagai batasan seperti cost, time, scope, integration, resource, risk, procurement, quality, communication, dan stakeholders (PMBOK yang terbaru) untuk mencapai kualitas yang optimal sesuai yang kita inginkan di bidang kontruksi. Ilmu yang mempelajari sistem proyek ini yang telah ada yaitu Project Management. Ilmu ini merupakan tools yang memungkinkan tim proyek untuk mengorganisasi pekerjaan mereka sesuai constraints yang ada. Cara-cara dan teknik dalam manajemen proyek ini terangkum menjadi suatu sistem proyek yang menjadi standar acuan para pelaku proyek.

               
 Dalam suatu manajemen proyek, terdapat berbagai macam proses yaitu initiating, planning, executing, controlling, dan closing yang semuanya saling berkaitan sehingga harus dilakukan secara optimal dan menyeluruh agar tercapai kesuksesan dalam proyek. Namun dewasa ini, banyak sekali terjadi kegagalan dalam proyek di Indonesia yang tentunya menyebabkan kerugian yang cukup besar baik dari segi materi maupun moral. Kasus yang biasa terjadi misalnya kegagalan dalam controlling suatu proyek. Banyak pihak yang berhasil melaksanakan konstruksi, namun beberapa diantaranya mengabaikan maintenance dan post construction sehingga menyebabkan kegagalan bangunan dalam jangka waktu yang pendek misalnya bangunan menjadi retak bahkan runtuh. Hal lain yang sering diabaikan adalah standar-standar yang terdapat pada PMBOK. Dalam statistik yang didapat, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai tingkat kecelakaan kerja konstruksi paling tinggi di Asia yaitu 20 orang cidera fatal setiap 100.000 tenaga kerja. Selain itu, hal ini juga menimbulkan kerugian rata-rata per tahun sebesar Rp 280 trilliun. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil.

               
 Dengan adanya berbagai kasus tersebut dapat memperburuk pandangan berbagai stakeholders yang berkepentingan di Indonesia akan kualitas konstruksi di Indonesia sehingga akan menurunkan kepercayaan pihak luar tersebut untuk memberikan suatu proyek untuk dikendalikan oleh Sarjana Teknik Sipil dari Indonesia. Akibat lebih jauhnya, kemampuan bersaing pelaku konstruksi di Indonesia akan semakin lemah di masa depan.

Berangkat dari kondisi konstruksi di Indonesia dan semakin tingginya kebutuhan akan pengetahuan manajemen proyek di zaman ini dan tingkat persaingan SDM dengan pihak asing yang semakin ketat, perlu  diadakan pencerdasan kepada generasi masa depan, yaitu para mahasiswa, akan pentingnya manajemen dalam suatu proyek.