UNIVERSITAS INDONESIA
Veritas, Probitas, Justisia
IMS FTUI 2014
Integratif dan Kontributif
Civil Engineering
Proud To Be Civil Engineer
CENS UI 2013
Contribute to our country
OIM FTUI 2014
Ayo sipil pasti bisa rebut juara !!! #SemangatBerprestasi
Kamis, 10 April 2014
Sabtu, 29 Maret 2014
Aksi serentak Earth Hour 2014
JAKARTA - Earth Hour merupakan kegiatan peduli lingkungan yang dipelopori oleh organisasi WWF (World Wide Fund for Nature) Australia, dimulai sejak 2007 dan diadakan pada hari Sabtu terakhir di bulan Maret setiap tahunnya.
Saat Earth Hour tiba, seluruh warga dunia serentak memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak diperlukan sejak pukul 20:30 hingga 21:30 waktu setempat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan terhadap perubahan iklim serta mengurangi konsumsi listrik.
Saat Earth Hour tiba, seluruh warga dunia serentak memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak diperlukan sejak pukul 20:30 hingga 21:30 waktu setempat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan terhadap perubahan iklim serta mengurangi konsumsi listrik.
Asal Usul
Seperti dikutip dari situs Earth Hour, Jumat (26/3/2010), awalnya pada 2004 WWF Australia mencari upaya baru dalam penanggulangan dampak pemanasan global. Maka tercetuslah ide Earth Hour tersebut. Kemudian dalam perkembangannya, dari tahun ke tahun kampanye Earth Hour disambut baik dan didukung oleh masyarakat dan pemerintah.
Selanjutnya pada 2005, WWF Australia bersama dengan agen periklanan Leo Burnett Sydney mendiskusikan ide yang mengusung gagasan bahwa setiap orang bisa bertanggungjawab secara pribadi untuk masa depan bumi. Mereka pun mulai mengembangkan konsep pemadaman lampu dan listrik dalam skala besar. Gagasan ini diberi nama 'The Big Flick'.
Leo kemudian diberi tugas membuat nama kampanye yang bisa mewakili lebih dari sekadar memadamkan lampu. Maka pada 2006, konsep mereka diubah namanya menjadi Earth Hour. Dengan demikian, mereka berharap nama Earth Hour memungkinkan untuk memperluas fokus kampanye dari sekedar mematikan lampu.
Tepat pada 31 Maret 2007, pertamakalinya Earth Hour dilaksanakan di Sydney, Australia. Kala itu, pemadaman lampu dilakukan pada jam 19:30 hingga 20:30 waktu setempat. Sekira 2,2 juta penduduk Sydney dan 2.100 pengelola gedung perkantoran turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kegiatan ini lantas menarik perhatian dunia internasional. Pada tahun-tahun berikutnya, Earth Hour pun kemudian diperingati secara global.
Aksi serentak di Indonesia
Selanjutnya pada 2005, WWF Australia bersama dengan agen periklanan Leo Burnett Sydney mendiskusikan ide yang mengusung gagasan bahwa setiap orang bisa bertanggungjawab secara pribadi untuk masa depan bumi. Mereka pun mulai mengembangkan konsep pemadaman lampu dan listrik dalam skala besar. Gagasan ini diberi nama 'The Big Flick'.
Leo kemudian diberi tugas membuat nama kampanye yang bisa mewakili lebih dari sekadar memadamkan lampu. Maka pada 2006, konsep mereka diubah namanya menjadi Earth Hour. Dengan demikian, mereka berharap nama Earth Hour memungkinkan untuk memperluas fokus kampanye dari sekedar mematikan lampu.
Tepat pada 31 Maret 2007, pertamakalinya Earth Hour dilaksanakan di Sydney, Australia. Kala itu, pemadaman lampu dilakukan pada jam 19:30 hingga 20:30 waktu setempat. Sekira 2,2 juta penduduk Sydney dan 2.100 pengelola gedung perkantoran turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kegiatan ini lantas menarik perhatian dunia internasional. Pada tahun-tahun berikutnya, Earth Hour pun kemudian diperingati secara global.
Aksi serentak di Indonesia
WWF-Indonesia bersama
Earth Hour Champions mengadakan AKSI SERENTAK:
“Ini Aksiku! Mana Aksimu?” sebagai
bagian dari rangkaian kegiatan kampanye Earth Hour yang tahun ini jatuh pada
hari Sabtu, 29 Maret 2014 selama 1 jam mulai 20.30 – 21.30 (waktu setempat).
Target aksi adalah untuk mengingatkan masyarakat aksi ramah lingkungan yang
mudah dan murah dan dapat dilakukan mulai dari diri sendiri setiap hari.
AKSI SERENTAK di 4 Car
Free Day (CFD) selama bulan Februari dan Maret 2014 telah dimulai pada tanggal
16 Februari 2014 lalu bertema mendukung transportasi publik.
Selanjutnya, aksi akan
dilakukan di 3 CFD di banyak kota pendukung kampanye di seluruh Indonesia:
1. 23 Februari 2014; Jam 06.30 – 10.00; tema: diet sampah plastik
2. 9 Maret 2014; tema: hemat kertas dan tisu
3. 23 Maret 2014; tema: air dan energi
1. 23 Februari 2014; Jam 06.30 – 10.00; tema: diet sampah plastik
2. 9 Maret 2014; tema: hemat kertas dan tisu
3. 23 Maret 2014; tema: air dan energi
Aksi yang dilakukan
secara bersamaan di lokasi Car Free Day Sudirman – Thamrin:
1. Aksi Pengumpulan Sampah Plastik
Mulai dari Halte Ratu Plaza – Semanggi
Mulai dari Halte Karet – Menara BCA Bundaran HI
Mulai dari Monas – Menara BCA Bundaran HI
2. Aksi Pembuatan Tas Belanja dari Kaos Bekas di Menara BCA Bundaran HI
3. Aksi Pengumpulan Tas Belanja di Menara BCA Bundaran HI
1. Aksi Pengumpulan Sampah Plastik
Mulai dari Halte Ratu Plaza – Semanggi
Mulai dari Halte Karet – Menara BCA Bundaran HI
Mulai dari Monas – Menara BCA Bundaran HI
2. Aksi Pembuatan Tas Belanja dari Kaos Bekas di Menara BCA Bundaran HI
3. Aksi Pengumpulan Tas Belanja di Menara BCA Bundaran HI
Kali ini, tim kampanye
Earth Hour yang bergabung dalam aksi serentak adalah Banda Aceh, Bekasi, Depok,
Tangerang, Bandung, Solo, Semarang, Kota Batu, Malang, Surabaya, Sidoarjo,
Denpasar, Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Banjarmasin, Palangkaraya, dan
Makassar.
“Ini Aksiku! Mana
Aksimu?”
Sumber:
http://techno.okezone.com
http://indonesia-now.com
Jumat, 28 Maret 2014
Kereta Cepat Indonesia
Kereta Peluru Jakarta-Bandung Beroperasi 2020
JAKARTA, KOMPAS.com — Mimpi Indonesia memiliki kereta cepat seperti Shinkansen di Jepang bakal terwujud. Rencananya, kereta berkecepatan tinggi itu beroperasi mulai tahun 2020 mendatang dengan rute Jakarta-Bandung. Pemerintah Jepang memberikan dana hibah sebesar 15 juta dollar AS untuk studi kelayakan proyek itu.
Studi kelayakan berlangsung selama dua tahap. Tahap pertama mulai 28 Januari 2014 hingga April 2015 untuk membahas perencanaan dasar kereta peuru tersebut. Tahap kedua berlangsung dari April 2015 hingga Desember 2015 guna menggodok detail kalkulasi biaya pembangunannya.
Perkiraan awal, proyek kereta kilat ini akan membutuhkan investasi hingga Rp 56 triliun. Dana tersebut termasuk untuk membangun jalur kereta sepanjang 133 kilometer dan pengadaan kereta cepatnya.
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Dedy Supriadi Priyatna mengatakan, pemerintah menginginkan agar studi kelayakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung bisa dipersingkat menjadi 18 bulan. "Agar ground breaking proyek kereta segera terlaksana," katanya seusai menggelar rapat dengan perwakilan Pemerintah Jepang, Selasa (28/1/2014).
Nantinya, pemerintah akan membangun stasiun kereta cepat ini di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, karena memiliki akses yang bagus menuju Stasiun Sudirman dan stasiun MRT yang kini masih dalam pengerjaan. Adapun di Bandung, lokasi stasiun akan terletak di kawasan Gedebage.
Rute kereta cepat ini akan melewati Bekasi, Cikarang, dan Karawang, dengan jarak tempuh 133 km. Dengan kereta berkecepatan hingga 300 km/jam ini, waktu tempuh Jakarta-Bandung cuma 37 menit. Dengan kereta api biasa, perjalanan butuh waktu sekitar tiga jam.
Nah, guna mempercepat proyek ini, pemerintah juga telah menyiapkan strategi khusus. Pemerintah akan membuat Unit Manajemen Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Unit ini terdiri dari berbagai elemen kementerian dan kelembagaan terkait. Contohnya, Kementerian Koordinator Perekonomian, Bappenas, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemprov DKI Jakarta, dan Pemprov Jawa Barat.
Indonesia Punya KA Super Cepat, 37 Menit Jakarta-Bandung, Tiket Rp200 Ribu/Orang
JAKARTA (Pos Kota) – Indonesia bakal memiliki kereta api super cepat. Saat ini Pemerintah Indonesia sedang melakukan pembahasan proyek kereta cepat shinkanzen Jakarta-Bandung. Rencananya, harga tiket per orangnya kurang dari Rp 200.000.
Saat ini sedang dilaksanakan studi kelayakan mengenai kereta super cepat Shinkanzen tersebut termasuk kajian mengenai harga tiketnya.
Jakarta-Bandung sepanjang 133 kilometer nantinya ditempuh hanya selama 37 menit saja. Begitu halnya Jakarta-Surabaya hanya dia jam saja.
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Dedy Supriadi Priyatna mengatakan pemwrintah akan mengusahakan agar harganya tiket dapat lebih rendah dari Rp 200.000. “Kami sedang membicarakan dengan pemerintah Jepang,” ujarnya.
Kereta Shinkanzen nantinya rute yang dilewati dari Jakarta ke Bandung melintas ke Bekasi, Cikarang, Karawang, Bandung dan Gedebage.
Namun jika tarifnya di bawah harga tersebut, kata Dedy, pemerintah harus melakukan subsidi. bisa dalam bentuk subsidi operasional atau subsidi investasi dalam pembangunannya.
Stasiun Shinkansen nantinya atau direncanakan berlokasi di kawasan Dukuh Atas Jakarta Pusat karena dianggap memiliki akses yang baik menuju Stasiun Sudirman dan stasiun bawah tanah Mass Rapid Transportation (MRT) yang baru.
Sedangkan di Bandungnya sendiri direncanakan stasiunya berada di kawasan Gedebage.
Pembangunan kereta cepat akan memakan waktu pembangunan 6-7 tahun dan menelan biaya hingga Rp56 triliun.
Diharapkan pada tahun 2020 sudah selesai dan masyarakat Jakarta dan Bandung diharapkan sudah bisa menikmati fasilitas kereta cepat ini.
Saat ini Proyek kereta cepat shinkansen Jakarta-Bandung sudah ke tahap feasibility study atau studi kelayakan oleh pemerintah Jepang, yang menghibahkan dana 15 juta dollar AS untuk studi ini.
Sedangkan pembiayaan kereta ini akan dilaksanakan kerja sama antara pemerintah dan swasta (KPS), dengan porsi pemerintah mendominan.
Proyek ini nantinya menggunakan teknologi yang hemat bahan bakar, namun juga hemat waktu karena kecepatan kereta akan melaju hingga 300 km/jam.
Pembahasan mengenai perencanaan dasar kereta mulai April – Desember 2015 akan membahas detail kalkulasi harga pembangunan.
Kereta Super Cepat Lebih Krusial untuk Rute Jakarta-Surabaya
Jakarta -Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kamar
Dagang dan Industri (Kadin) menilai pembangunan kereta super cepat
Shinkansen di Indonesia lebih krusial untuk diterapkan di jalur
Jakarta-Surabaya. Pengusaha menilai jalur tersebut banyak menjadi basis
pengusaha.
Demikian dikatakan Ketua Umum Kadin Suryo Bambang
Sulisto saat acara seminar dengan tema Making 2014 The Year of Economic
and Bussines Confidence di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis
(30/1/2014).
"Tentu penting ya, tapi menurut saya akan lebih
penting lagi kalau Jakarta-Surabaya. Di Jakarta, Semarang, Surabaya kan
jalur padat juga, banyak pengusaha," ujar dia.
Suryo menjelaskan,
jalur Jakarta-Surabaya dinilai lebih banyak bisa menopang pertumbuhan
ekonomi Indonesia bukan hanya untuk pengangkutan penumpang saja tetapi
untuk kelancaran logistik dan barang.
"Jakarta-Surabaya melalui
jalur utara menurut saya prioritas lebih tinggi karena akan sangat
membantu pertumbuhan ekonomi. Untuk kelancaran barang perlu jadi
perhatian karena justru ini yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas,"
jelasnya.
Dia menambahkan, kereta super cepat ini memang perlu
segera dibangun, namun tidak harus secepat Shinkansen yang mencapai 300
kilometer per jam.
"Tidak perlu kereta cepat seperti Shinkansen
karena biaya tinggi. Cukup kecepatan 200 km per jam, itupun sudah dua
kali lipat dari yang sekarang. Coba kalau bisa tempuh Jakarta-Surabaya
dalam waktu 4 jam, akan luar biasa. Orang akan lebih milih naik kereta,"
tandasnya.
referensi
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/01/29/1504420/Kereta.Peluru.Jakarta-Bandung.Beroperasi.2020
http://finance.detik.com/read/2014/01/30/150229/2483269/4/kereta-super-cepat-lebih-krusial-untuk-rute-jakarta-surabaya
http://poskotanews.com/2014/02/02/indonesia-punya-ka-super-cepat-37-menit-jakarta-bandung-tiket-rp200-ribuorang/
Kamis, 20 Maret 2014
Briket Sabut Kelapa, Bahan Bakar Alternatif yang Ramah Lingkungan
| Foto : Pembuatan briket sabut kelapa oleh mahasiswa UNY/UNY |
JAKARTA - Umumnya, sabut kelapa hanya dibuang begitu saja dan dibiarkan menjadi limbah. Namun, para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) justru memanfaatkanya menjadi bahan bakar alternatif atau briket. Mereka ialah Dewi Purwanti dari program studi (prodi) Kebijakan Pendidikan, Putri Utha C dari prodi Pendidikan Kimia, serta Erba Firstananda dan Desi Analisa Nababan dari prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNY.
Menurut Ketua Kelompok Dewi Purwanti, mereka memilih untuk mendaur ulang limbah sabut kelapa karena beberapa alasan. Salah satunya, mereka ingin mengurangi pencemaran lingkungan yang bisa berdampak pada kesehatan masyarakat di sekitar.
“Masyarakat setempat menjadi merasa tidak nyaman dengan adanya tumpukan sabut kelapa tersebut. Oleh karena itu, kami buat sabut kelapa menjadi briket, selain bermanfaat bagi masyarakat juga dapat mengurangi pemakaian gas elpiji untuk memasak,” tutur Dewi, seperti disitat dari situs UNY, Sabtu (1/2/2014).
Putri Utha mengungkap, mereka bekerjasama dengan masyarakat Dukuh Sorogaten II, Karangsewu, Galur, Kulon Progo untuk melakukan pelatihan pembuatan briket limbah sabut kelapa sebagai energi alternatif. Dengan pelatihan tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. “Kami memilih dukuh Sorogaten karena Sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. Diharapkan juga masyarakat dapat memanfaatkan limbah sabut kelapa tersebut untuk kerajinan lain yang bisa menghasilkan manfaat lain,” kata Putri.
Sebagai dukuh yang merupakan penghasil kelapa, beberapa warga masyarakat di sana menjadi penjual kelapa dan lainnya menjadi pengusaha wingko babat yang menghasilkan limbah sabut dan tempurung kelapa. Selama ini limbah tempurung dan sabut kelapa digunakan sebagai pengganti kayu bakar, akan tetapi panas yang ditimbulkan terlalu tinggi sehingga menyebabkan rusaknya peralatan rumah tangga.
Erba Firstananda mengatakan, briket adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap.
“Briket dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon baik organik maupun anorganik. Sabut kelapa dapat dijadikan bahan alternatif pembuatan briket karena mengandung unsur karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi atau bahan bakar,” ungkap Erba.
Sementara itu, Desi Analisa Nababan berbagi cara pembuatan briket limbah sabut kelapa. Pertama, lanjutnya, siapkan sabut kelapa yang akan dijadikan briket. Kemudian sabut kelapa tresebut dibakar pada tempat pembakaran berupa drum yang diberi lubang sebagai tempat keluarnya asap pembakaran. "Alat dilengkapi dengan pipa pendingin untuk proses kondensasi asap menjadi asap air. Setelah semua bahan terbakar lalu didinginkan selama satu malam, kemudian ditumbuk agar halus dan diayak," urai Desi.
Sementara itu, buat cairan perekat dari larutan tepung kanji yang telah dipanaskan, lalu campurkan arang sabut kelapa dengan lem kanji, dengan perbandingan 600 cc lem perekat dan satu kg arang sabut kelapa. Kemudian cetak adonan sesuai dengan alat cetak atau dengan pipa paralon dan dijemur selama kurang lebih satu hari. Briket pun siap digunakan. (mrg)
Sumber :
http://m.okezone.com
Minggu, 16 Maret 2014
PMP changes to reflect new PMBOK 5
Minggu, Maret 16, 2014
No comments
If you're studying for the Project Management Institute's (PMI) Project Management Professional
(PMP) exam, considering taking it, or procrastinating about getting
this certification, you should know the PMP certification exam is
changing on July 30, 2013. I spoke with PMI's Victor Carter-Bey,
Director, Certification, and John Kleine, Global Product Manager, who
told me the changes are to ensure there are no conflicts between the
Project Management Body of Knowledge (PMBOK) guide and the standard
exam, because PMBOK 5 is replacing PMBOK 4.
Kleine offers, "Regardless of when the credential is bestowed, it's us making sure through either the professional development in the current and the newest credential holders that they are up to speed and their skills and experience speak to the global marketplace of project management. From a PMI perspective, we take great pride in the exam development process that we do have in place and employ." Kleine tells me that PMI prides themselves on the process behind developing the PMP exam because it involves certified PMPs working across industries.
According to Kleine, "The exam itself, while it's designed by PMI, we use some other resources to pull it all together. The actual exam creation as far as questions are concerned and the content is done by certified PMPs around the world."
"This is on two different fronts," Kleine details. "The first is when we think about the actual construction of the exam and the actual domain areas of knowledge for the exams. These areas are really based on research we do with practicing professionals, practicing PMPs around the world. So every three to five years we perform what's called a role delineation study where we look at the specific role of the project manager. Particularly in the case of the PMP, we look at someone who leads and directs projects for companies. And going through that research, the project managers will identify what are the areas of responsibility for project managers and what are the various tasks a project manager performs in that role while leading and directing a project."
"We take all that research and aggregate it for the examination. That specific process is managed and facilitated by PMI, but the actual inputs are coming from certified PMPs around the world," says Kleine.
This latest change is part of the overall maintenance of the PMP certification, according to Kleine. He stated, "The other piece is about the maintenance of the certification. What we do each year is have four or five sessions around the world where we bring in certified project managers to refresh and update the content to make sure it remains relevant, but again that is coming from the certified project managers and facilitated by PMI."
The practitioners are defining the terms, structure, and layout of the exam, and PMI has taken that and built on it according to Kleine and Carter-Bey.
PMBOK 4 to PMBOK 5 changes
Here is a breakdown of the changes that are occurring with the update from PMBOK 4 to PMBOK 5:- Project stakeholder management joins the Knowledge areas, making 10 knowledge areas.
- Processes increase from 42 to 47, with the process groups remaining at five.
- 19% increase in input, output, tools, and techniques, now totaling 614.
Process additions
The release of PMBOK 5 also brings with it these process additions:- Plan Scope Management
- Plan Schedule Management
- Plan Cost Management
- Plan Stakeholder Management
- Control Stakeholders Engagement
Process changes
The following table shows the process changes that are happening between PMBOK 4 and PMBOK 5:| PMBOK 4 | PMBOK 5 |
| Distribute Information | Manage Communications |
| Report Performance | Control Communications |
| Monitor and Control Risks | Control Risks |
| Plan Procurements | Control Procurements |
| Identify Stakeholders | Identify Stakeholders |
| Direct and Manage Project Execution | Direct and Manage Project Work |
| Verify Scope | Validate Scope |
| Plan Quality | Plan Quality Management |
| Perform Quality Control | Control Quality |
| Develop Human Resource Plan | Plan Human Resource Management |
| Plan Communications | Plan Communications Management |
| Manage Stakeholder Expectations | Manage Stakeholders Engagement |
Behind the new PMP changes
"The hiring managers can expect the same things they have in the past," according to Kleine. "One of the things about the PMP exam and the credential in general is that it is a dynamic credential, so it stays relevant. There is not only an exam, but professional development as well."Kleine offers, "Regardless of when the credential is bestowed, it's us making sure through either the professional development in the current and the newest credential holders that they are up to speed and their skills and experience speak to the global marketplace of project management. From a PMI perspective, we take great pride in the exam development process that we do have in place and employ." Kleine tells me that PMI prides themselves on the process behind developing the PMP exam because it involves certified PMPs working across industries.
According to Kleine, "The exam itself, while it's designed by PMI, we use some other resources to pull it all together. The actual exam creation as far as questions are concerned and the content is done by certified PMPs around the world."
"This is on two different fronts," Kleine details. "The first is when we think about the actual construction of the exam and the actual domain areas of knowledge for the exams. These areas are really based on research we do with practicing professionals, practicing PMPs around the world. So every three to five years we perform what's called a role delineation study where we look at the specific role of the project manager. Particularly in the case of the PMP, we look at someone who leads and directs projects for companies. And going through that research, the project managers will identify what are the areas of responsibility for project managers and what are the various tasks a project manager performs in that role while leading and directing a project."
"We take all that research and aggregate it for the examination. That specific process is managed and facilitated by PMI, but the actual inputs are coming from certified PMPs around the world," says Kleine.
This latest change is part of the overall maintenance of the PMP certification, according to Kleine. He stated, "The other piece is about the maintenance of the certification. What we do each year is have four or five sessions around the world where we bring in certified project managers to refresh and update the content to make sure it remains relevant, but again that is coming from the certified project managers and facilitated by PMI."
The practitioners are defining the terms, structure, and layout of the exam, and PMI has taken that and built on it according to Kleine and Carter-Bey.
Conclusion
The upcoming changes in the PMP examination are in response to market changes and the natural evolution of the project manager role in the global market. Be aware of these changes to the PMP exam if you plan to seek PMP training or take the exam.Senin, 03 Maret 2014
Sabuk Logam, Teknologi Murah untuk Rumah Tahan Gempa
Sebuah teknologi murah dan mudah diimplementasikan mampu mencegah jatuhnya korban akibat gempa bumi dan membuat rumah tetap aman ditinggali pasca bencana. Cukup kencangkan ikat pinggang.
Ribuan nyawa bisa diselamatkan setiap tahun apabila bangunan dibuat tahan gempa. Namun baru sedikit negara berkembang yang memiliki akses terhadap teknologi rumit yang kerap mahal yang dibutuhkan untuk membuat bangunan anti-gempa.
Kini sebuah tim dari Universitas Sheffield di Inggris mengaplikasikan teknik baru yang tengah diujicobakan pada sebuah bangunan yang diberi tekanan serupa dengan gempa bumi yang menggoncang Haiti tahun 2010 lalu – dan tidak runtuh.
Mengikatkan sabuk logam pada kolom beton sebuah bangunan mencegah keretakan material dan runtuhnya bangunan meski mendapatkan tekanan sepanjang tes.
“Cara kerjanya sangat menyerupai sabuk atlet angkat besi. Semuanya dikompresi sehingga mengurangi tekanan pada kolom beton,” jelas Profesor Kypros Pilakoutas, yang mengepalai tim di Sheffield.
Tetap aman pasca gempa
Uji coba yang dipublikasikan Journal of Earthquake Engineering, melibatkan sebuah simulasi gempa bumi. Struktur beton yang dilindungi sabuk logam tetap bergoyang, namun tidak pernah runtuh.
"Metode kami tidak hanya membuat bangunan kembali stabil dengan cepat, tapi juga meningkatkan kemampuan bangunan untuk melakukan deformasi, sehingga tidak lebih rentan terhadap gempa susulan," katanya.
Membuat rumah yang rusak atau runtuh sebagian kembali aman pasca bencana akan memungkinkan warga untuk lebih cepat kembali menghuni rumah.
Hanya dua orang yang dibutuhkan untuk memasang sejumlah sabuk logam dalam waktu beberapa jam, dan para periset di Sheffield memperkirakan biaya yang dibutuhkan per rumah sekitar 250 Euro.
Masalah negara berkembang
Gempa bumi besar terakhir melanda provinsi kepulauan Bohol di Filipina bulan Oktober 2013. Lebih dari 200 orang tewas dan 900 lainnya terluka.
"Penyebab utama kematian adalah tertimpa runtuhan bangunan," ungkap Christine Casser, seorang sukarelawati yang dikirim ke Bohol oleh Disaster Aid UK.
Wilayah yang rentan gempa bumi di negara maju, seperti Tokyo dan Kalifornia, telah menanamkan investasi besar dalam melindungi bangunan baru dan tua dari aktivitas seismik.
Sebaliknya, negara-negara berkembang kerap tidak siap menghadapi gempa bumi terutama karena dua alasan: kurangnya dana dan kecenderungan untuk lupa terlalu cepat.
"Kami masih melihat beberapa bangunan yang rusak di Kota Meksiko. Namun warga sudah lupa betapa rentannya gedung-gedung ini," papar Reyes Garcia, seorang kandidat PhD dari Meksiko yang turut membantu Profesor Pilakoutas di Universitas Sheffield. Kota Meksiko dihantam gempa berkekuatan 8,1 skala Richter tahun 1985. Gempa ini menewaskan lebih dari 10 ribu orang.
"Kami tidak sadar kalau kami berada dalam zona seismik, kalau kami akan terkena gempa bumi dan kalau bencana semacam ini pasti akan terjadi entah kapan dalam masa hidup kami," pungkas Garcia.
- Penulis Lars Bevanger
- http://dw.de
Jumat, 28 Februari 2014
Civil Engineering Project Competition 2014 - Universitas Katolik Parahyangan
Sebuah kompetisi dengan 3 lomba yg melibatkan 3 elemen dalam dunia teknik sipil...
Geotechnical engineering, hydrological engineering, dan construction management...
Lomba ini terbuka untuk mahasiswa yang masih kuliah S1 teknik sipil di regional jawa dan bali, dengan total hadiah jutaan rupiah.
Geotechnical engineering, hydrological engineering, dan construction management...
Lomba ini terbuka untuk mahasiswa yang masih kuliah S1 teknik sipil di regional jawa dan bali, dengan total hadiah jutaan rupiah.
Pendaftaran akan dibuka tanggal 3 Maret 2014, berikut ini link seputar lombanya >>
Form Pendaftaran
Ketentuan Lomba Geotechnical (coming soon)
Jumat, 21 Februari 2014
Selasa, 18 Februari 2014
PKM, untuk Mahasiswa yang Peduli Kemajuan Indonesia
Selasa, Februari 18, 2014
No comments

PKM merupakan singkatan dari Program Kreativitas Mahasiswa. Sebuah program keilmiahan yang diselenggarakan oleh Ditjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) untuk memacu kreativitas dan penalaran mahasiswa dalam hal penerapan ilmu yang telah mereka dapat.
Sejarah
Program ini didasari karena adanya kesenjangan antara teori yang diperoleh mahasiswa dengan realita kebutuhan masyarakat dan munculnya tuntutan masyarakat atas mutu lulusan perguruan tinggi yang mandiri dan siap mengantisipasi arah pengembangan bangsa. Dulu, (1997) Program seperti ini bernama KAM (Karya Alternatif Mahasiswa), hanya saja pada program KAM, banyak proposal yang hanya boleh diajukan oleh kelompok dosen, sedangkan mahasiswa hanya diikutsertakan di lapangan.
Dalam perkembangannya, KAM terasa sangat membatasi ruang kreasi mahasiswa yang memiliki minat, bakat dan intelektual beragam. Pada tahun 2001, DITLITABMAS kemudian mengembangkan KAM menjadi Program Kreativitas Mahasiswa yang membuka peluang mahasiswa dalam berkarya seluas para dosennya. Sejak saat itu dikenal berbagai jenis Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), yaitu: PKM-Penelitian (PKMP), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Artikel Ilmiah (PKM-I).
Pada tahun 2002, PKM bergabung dengan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) ke dalam program Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Surabaya. Atas kebijakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, sejak tahun 2009 pelaksanaan Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) yang dahulunya bernama LKTM diintegrasikan pengelolaannya ke dalam PKM. Mengingat sifatnya yang identik dengan PKM-I, maka program KKTM dikelompokkan bersama PKM-I ke dalam PKM-Karya Tulis (PKM- KT). Untuk membedakannya, PKM-I diberi nama baru PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan KKTM menjadi PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT) sesuai dengan sumber bahan penulisannya. Sesuai dengan sifat artikel yang dihasilkan, maka PKM-AI akan bermuara pada Jurnal Kreativitas Mahasiswa sedangkan PKM-GT menggantikan posisi PKM-AI di PIMNAS.
PKM & PIMNAS XXVII
Melalui program PKM, Dikti mendorong mahasiswa untuk berkarya. Ada 7 kategori PKM, yaitu :
1. PKM Gagasan tertulis
2. PKM Artikel Ilmiah
3. PKM Karsa Cipta
4. PKM Penelitian
5. PKM Kewirausahaan
6. PKM Teknologi
7. PKM Masyarakat
Dikti memberikan bantuan pendanaan bagi setiap usulan proposal yang dinilai layak. Kemudian dalam proses berjalannya, keberlangsungan program yang didanai tersebut dievaluasi oleh Dikti sebagai fungsi mekanisme kontrol. Lalu program yang telah berjalan optimal kemudian diberikan apresiasi untuk tampil di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Di Pimnas, sejumlah karya-karya mahasiswa yang inovatif dipertunjukkan untuk saling memberikan inspirasi bagi semua khalayak. Selanjutnya di akhir acara Pimnas, diberikan predikat juara sebagai apresiasi terhadap karya yang terbaik dari sejumlah yang dipertunjukkan tersebut. Dengan apresiasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan semangat berkarya bagi para mahasiswa yang menyaksikan.
Pada Pimnas ke-XXVII yang akan diselenggarakan bulan September 2014 nanti, yang menjadi tuan rumah adalah Universitas Diponegoro.
PKM-GT (Gagasan Tertulis)
PKM & PIMNAS XXVII
Melalui program PKM, Dikti mendorong mahasiswa untuk berkarya. Ada 7 kategori PKM, yaitu :
1. PKM Gagasan tertulis
2. PKM Artikel Ilmiah
3. PKM Karsa Cipta
4. PKM Penelitian
5. PKM Kewirausahaan
6. PKM Teknologi
7. PKM Masyarakat
Dikti memberikan bantuan pendanaan bagi setiap usulan proposal yang dinilai layak. Kemudian dalam proses berjalannya, keberlangsungan program yang didanai tersebut dievaluasi oleh Dikti sebagai fungsi mekanisme kontrol. Lalu program yang telah berjalan optimal kemudian diberikan apresiasi untuk tampil di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Di Pimnas, sejumlah karya-karya mahasiswa yang inovatif dipertunjukkan untuk saling memberikan inspirasi bagi semua khalayak. Selanjutnya di akhir acara Pimnas, diberikan predikat juara sebagai apresiasi terhadap karya yang terbaik dari sejumlah yang dipertunjukkan tersebut. Dengan apresiasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan semangat berkarya bagi para mahasiswa yang menyaksikan.
Pada Pimnas ke-XXVII yang akan diselenggarakan bulan September 2014 nanti, yang menjadi tuan rumah adalah Universitas Diponegoro.
PKM-GT (Gagasan Tertulis)
Sebagai pemicu, di sini akan dijelaskan sedikit mengenai PKM-GT. Seperti yang telah disinggung di atas, PKM GT merupakan salah satu dari tujuh kategori PKM. Penulisan PKM ini bersumber dari ide atau gagasan kelompok mahasiswa. Dalam PKM-GT berisi gagasan solusi terhadap masalah atau isu aktual yang ada di masyarakat. Tentunya solusi tersebut merupakan hasil karya pikir yang cerdas, unik, dan bermanfaat. Selain itu, pembahasannya bersifat kreatif, logis dan sistematis, serta berdasarkan telaah pustaka atau fiksi-sains. Dalam penulisan PKM-GT, jumlah halaman ditetapkan sebanyak-banyaknya 15 (lima belas) halaman termasuk daftar pustaka dan lampiran (jika diperlukan).
Berikut ini testimoni dari Mahasiswa UI yang PKM-GT nya didanai DIKTI dan lolos ke PIMNAS XXVI di Mataram:
“Perjuangan untuk menghasilkan suatu PKM yang baik memang tidak mudah,
tetapi perjuangan untuk mempersiapkan diri di PIMNAS jauh lebih sulit. Saat
semua sudah terlewati, hanya ada satu hal yang terlintas di pikiran kami.
Perjuangan kami selama ini tidaklah sia-sia. Banyak hal baru yang kami dapatkan
selama mengikuti PIMNAS. PIMNAS juga merupakan ajang pembuktian diri bagi kami.
Kami berharap bibit-bibit peserta PIMNAS wakil UI dapat terus berkembang dan
melanjutkan perjuangan kami, serta tetap mengharumkan nama besar Universitas
Indonesia.”
-PKM-GT: Puskesmas Stelsel Berdinding Botol-
Berikut ini testimoni dari Mahasiswa UI yang PKM-GT nya didanai DIKTI dan lolos ke PIMNAS XXVI di Mataram:
-PKM-GT: Puskesmas Stelsel Berdinding Botol-
"Besar
harapan kami akan semakin banyak mahasiswa UI yang berkarya melalui PKM sebagai
bentuk pengabdiannya terhadap ilmu pengetahuan dan bangsa. Sebab, PKM dan PIMNAS
bukanlah hal yang hanya dilihat sebagai hal yang membanggakan, tetapi juga
sarana bagi mahasiswa untuk berbuat lebih & nyata untuk Indonesia."
-PKM
GT: Desain Fasilitas Transportasi Publik Untuk Masyarakat Penyandang
Disabilitas-
Untuk tips-tips penulisan PKM (GT,AI,P,M,K,KC,dan T), silahkan lihat di modul pkm iluni pimnas ui atau bisa juga dengan mengikuti TL akun twitter @UItoPIMNAS.
Buat kamu yang penasaran tentang judul-judul PKM yang lolos ke PIMNAS tahun lalu, silahkan lihat di sini.
Jadi, tunggu apa lagi? Ayo buat PKM mu sekarang! Dan jadilah Mahasiswa yang punya prestasi untuk Indonesia...
Buat kamu yang penasaran tentang judul-judul PKM yang lolos ke PIMNAS tahun lalu, silahkan lihat di sini.
Jadi, tunggu apa lagi? Ayo buat PKM mu sekarang! Dan jadilah Mahasiswa yang punya prestasi untuk Indonesia...
Sumber :
http://uitopimnas.ui.ac.id
http://dikti.go.id
http://ksm.ui.ac.id
http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/01/07/186281
http://agenkwsp.blogspot.com
Kamis, 06 Februari 2014
What Are Green Roof?
Green roofs are essentially a growing medium and vegetation surface applied to a
waterproofing layer of a suitable conventional roof build-up. Generally
speaking, there are three main types of green roofs: intensive, semi-intensive and
extensive (including biodiverse). These definitions denote the amount of input
required in terms of irrigation, nutrients and maintenance to keep the green
roof flourishing.
Intensive green roofs, therefore,
tend to be well manicured and need significant input, whereas extensive roofs
need only minimal input.
Water and sustainable drainage
In countries such as Austria,
Switzerland and Germany, green roofs are recognised as a significant
source-control component,contributing to storm water management and pollution
control. For example, in many German cities businesses receive a rebate in
their storm water charges if they have a green roof
Green roofs not only store water at
roof level, but also reduce the run-off rate from the roof, which in turn
reduces the underground drainage requirements. It is also possible to use or
harvest rainfall from a green roof, although the amount of rainwater that can
be used may be reduced depending on the type of green roof implemented. Water
can also appear discoloured at first, though there are established methods of
dealing with this discolouration
Thermal performance
Green roofs also significantly
enhance the thermal performance and comfort of buildings, particularly in terms
of summer cooling. Studies in North America have shown that an average of
4.15kWhr/m2 can be saved during the summer months. This impressive performance
can also reduce the need for expensive air conditioning equipment and
associated energy costs. A prime example of this is a small London cafĂ© – Paradise
Park – where it was calculated that no air conditioning units were needed for
the offices beneath a green roof, providing an annual saving of 3,800kWhrs per
year and significant financial savings as a result.
Green roofs do provide some
additional insulation; however, this varies year-on-year depending on how dry
or wet a given winter is. In Germany though, recent studies have shown that a
100mm green roof system can lead to savings of between 2-6kW/ m2 per year on
winter energy bills. This variance is dependent on the amount of rainfall
throughout the winter in any given year
Biodiversity
Any green space will provide
intrinsic value to biodiversity and, as such, increasing biodiversity has been
a key driver for green roofs in parts of the UK, especially London and
Sheffield. To achieve optimum biodiversity there is a need to look at the type
of green roof build-up (the substrates) and vegetation or flowers to be used.
Research in both Switzerland and the UK has demonstrated that using various
substrate depths and planting with sedums and herbs can increase the benefit of
green roofs to rare invertebrate populations. What is more, the use of
semi-intensive and intensive green roofs can provide an array of advantages for
many common – and in some cases rare – species within the national, regional
and local biodiversity action plans. Greater substrate depths will also aid
storm water management and the building’s thermal performance
Sound insulation
A further advantage of green roofs is
that they provide superior sound insulation compared to more traditional roof
coverings. While there is no research in the UK or Europe at present to support
this, recent studies in North America demonstrate the increased sound
insulation they offer and, therefore, the decreased need for sound insulation
or soundproofing on ceilings to reduce the amount of sound penetrating a
building. With soundproofing an increasingly important design consideration in
a school’s construction, as well as a key stipulation in the DCSF’s guidance
document ‘Standard Specifications, Layouts and Dimensions’ (SSLD document
five), this is clearly a major advantage
Health and safety
Ensuring safe access to the roof, as
well as safety whilst on it, are also key issues that need to be addressed at
design stage. In particular, consideration should be given to which areas of
the roof need to be accessed by students and teachers and where the green roof
is situated in relation to other surrounding roof areas. Other considerations
will be dictated by the age of the students accessing the roof. However, by
meeting these health and safety requirements, schools often find a green roof
brings unexpected health and safety benefits – for example, a reduction in
insurance costs for field trips together with a reduction in associated
parental-approval paperwork.
Additional benefits of Green Roofs
Other key benefits occur when green
roofs are applied to waterproofing, providing protection from frost, UV light
and other climatic factors, and thus increasing the life of a building’s
membranes. The provision of appropriately designed landscape at roof level can
also create valuable amenity areas within buildings, providing space for
outdoor classrooms and other educational activities – a benefit that is largely
ignored at present.













